His Wedding


Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a baina kuma fii khoir

Ini harinya. Dimas nikah. Setelah akad, yang pertama ngecup pipinya dan ngucapin doa diatas adalah saya. Keluargaku yang lain baru ngikut2 setelah saya melakukannya.

Haru, seneng. Hari ini, sedikitnya (sekali lagi) saya merasa perasaan menjadi 'dewasa' itu seperti ini. Setelah kemarin nyari kado yang 'nggak biasa' buat saya untuk mereka. Saya, baru kali ini menghadiri pernikahan keluarga saya. Baru tahu bagaimana rasanya. Haha

Kedepannya, mungkin dimas udah bakal susah diseret2 dalam kehidupanku yang egois. Dia udah nggak single lagi. Udah susah buat saya bilang, "Dim, anterin ke Malahayati sih", atau "Dim, jemput di depan Chandra yaa". Ya, memang sudah waktunya. Jadi, saya mencoba ikhlas saja.

Selamat berbahagia buat Dimas dan Fini. Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

P.S: Saya minat banget sama hiasan melati di kepala pengantin perempuannya. Udah saya booking untuk saya bawa pulang. Bunga asli loh... mau saya tebar di kasur saya. Ahahahaha

Nothing Special on 25 Desember


Saya tergelitik ketika membaca sebuah twitpic yang diretweet oleh teman saya. Tentang event hari ini, tanggal ini. Sebenarnya, sejak pagi timeline saya penuh dengan bahasan tentang kontroversi terlarangnya ucapan untuk hari ini. Banyak sekali yang ngetwit pro dan kontra. Saya, nggak ambil pusing dengan itu semua. Buat saya, nggak ada yang spesial dengan hari ini. It's just tanggal merah yang berarti libur seperti liburnya hari buruh. Sedemikian saya nggak bergeming dengan euforia hari buruh, saya pun nggak bergeming dengan euforia tanggal 25.

Kembali ke twitpic tadi, saya merasa lucu saja. Twitpic itu milik orang yang nggak saya kenal, yang saya nggak tahu dia muslim atau bukan_ yang isinya dia tujukan kepada muslim yang masih bingung dengan boleh tidaknya mengucapkan. Dia mengajak orang muslim untuk melihat event 25 ini sebagai sebuah hal yang menggembirakan dengan ornamen pohon yang dihias-hias, makan bareng2, senyum dimana-mana. Kurang lebih seperti itulah. Jadi, dia mengharap para muslim bisa mengucapkan kalau para muslim bahagia sebagaimana bahagianya orang kristiani di tanggal 25.

Saya merasa lucu saja dengan pernyataan itu. Kalau dia seorang kristiani, kenapa mesti pusing dengan tidak adanya muslim yang mengucapkan selamat padanya? I mean, that's yours, not us. Kita semua melek kan kalau muslim, kristiani, budha, hindu, meski sama2 manusia, sama2 orang Indonesia, tapi kita punya perbedaan. Muslim menyembah Allah. Kristiani punya Jesus, Budha dan Hindu dengan  banyaknya dewa dewi. Itu jelas2 sebuah perbedaan yang nggak bisa disangkal. Jadi, kenapa kita nggak bisa menghargai perbedaan dengan nggak meminta agar kita jadi sama? Selama nggak ada muslim yang memasang bom di gereja, atau tetangga muslim yang meneror rumahmu ketika kamu nyanyi malam kudus, kamu bebas berbahagia dengan keluarga dan teman2 kristianimu di event 25. That's nothing to do with moslem, right? Karena 25 desember adalah event spesial agamamu.

Kalau si empunya twitpic itu adalah seorang muslim, saya ingin bertanya haruskah kita berpura-pura bahagia untuk hal yang nggak ada kaitannya sama kita? I mean, kenapa kita selalu memaksakan diri untuk menganggap spesial hal yang sebenarnya nggak spesial buat kita. Apa spesialnya tanggal 25 buat seorang muslim? Apakah kita ikut ngehias2 pohon? Apakah kita ikut costplay baju merah menyala? Apakah kita nyanyi2 semalam suntuk dan ngegelar pesta makan besar? Jadi, apa maknanya 25 desember buat seorang muslim? Nggak ada kan? Dia cuma hari yang kebetulan libur. Jadi kita bisa bersantai di rumah, atau liburan bareng keluarga, tanpa perlu sirik atau resek sama tetangga kita yang rumahnya penuh lampu dan lonceng2. Tanpa perlu ngenganggu atau terlibat di event mereka.

Jadi, apa pentingnya ucapan ataupun mengucapkan? Jangan mengaburkan batasan toleransi. Unite itu untuk urusan kemanusiaan, untuk urusan duniawi. Kalau berbicara tentang agama, kita punya privasi yang harus dihargai. Kalau kita semua hendak sama dalam ibadah dan perayaan, jangan punya Tuhan yang berbeda. Kita cuma boleh punya 1 Tuhan yang sama. Tapi, kita nggak bisa kan? Maka, hargailah agama sendiri, lalu hargai kepercayaan orang lain.

Muka Dua


Selama ini, kita selalu nggak pernah (akan) suka dengan mereka yang bermuka dua. Di depan kita pasang muka manis, di belakang kita masamnya sampai seluruh dunia (kecuali kita sendiri) tahu kalau kita telah berlaku salah.

Saya, selalu bercita-cita untuk bisa marah ketika saya memang (sedang) marah. Tanpa memaksakan diri untuk tersenyum manis padahal di hati mendidih. Tapi, ternyata keadaan nggak memungkinkan saya bisa konsisten dengan hal itu. Ada saatnya, di dalam hati saya sedih dan marah, tapi saya justru nggak bisa berbuat apapun kecuali pasang wajah senyum. Pathetic banget ya saya. Haha

Lalu kalau dipikir2 lagi, sebenarnya nggak ada yang salah dengan tetap memasang wajah manis meski dalam hati menangis. Yang salah (adalah) ketika setelah itu kita mengeluarkan kemarahan kita sehingga seluruh dunia tahu kecuali dia (orang yang berbuat salah pada kita). Kalau begitu, kita justru jadi pelaku muka dua yang dibenci oleh seluruh umat manusia. Lah...

Jadi, saya membuat sebuah cita-cita baru: Kalau keadaan memaksa saya (tetap) memasang wajah manis padahal saya (sedang) marah sekali, saya hanya harus tetap menjadikannya rahasia. Hanya saya yang boleh tahu. Lalu, lakukan forgive dan forget setelah beberapa lama. Kelihatannya mudah, tapi.. semoga benar2 mudah dilaksanakan yah. Ahahahahahaha

Don't Make Me Down


Saya sudah lama berhenti merasa kalau dunia ini nggak adil. Tapi hari ini, saya merasakan kembali perasaan belasan tahun yang lalu. Kenapa saya diperlakukan nggak adil? Tapi satu hal yang pasti, this time i won't let you make me down. Saya bukan cewek cengeng kayak dulu lagi. Just watch me.
SAYA KUAT SEPERTI BERUANG TAUK!

Desember = Libur (?)


Desember itu... bulan libur. 6 bulan yang lalu, saya telah merencanakan untuk bisa berlibur ke Palembang di bulan Desember. Mengunjungi Nuari. Main ke Unsri. Maen ke jembatan ampera. Makan pempek asli palembang. Naik kereta dari Lampung ke Palembang bareng bokap. Tapi, ternyata rencana hanya tinggal rencana. Desember ini, saya justru harus bersiap ke Bekasi. Liburan di Desember ini dipenuhi dengan acara nikahannya Dimas (sepupuku). Seperti layaknya rencana yang terlewatkan di bulan November lalu: Ke Kiluan Dolphin batal. Bahkan, ke Klara pun nggak jadi. November saya diisi penuh dengan bedrest. Dan, alhamdulillah. Semua itu semakin membuat saya yakin kalau Allah lah yang maha berkehendak.

Qadarullah...

Tapi, meskipun begitu... saya nggak pernah berhenti menguntai harapan-harapan. Saya nggak pernah capek menyusun rencana-rencana. Dan berharap Allah menjadikannya nyata. Kalaupun tidak, Allah mengganti dengan yang lebih baik dari semua milik saya, yang membuat saya justru lebih bahagia. Jadi, semoga di tahun depan saya bisa benar2 pergi ke Palembang untuk bisa bertemu Nuari. Saya juga pengen  ke Batam, meski saya belum tahu siapa yang bisa saya temui disana. Kenapa Batam? Entahlah, hanya saja saya ingin bisa merasakan angin laut batam dan makan seafood disana. Semoga...

Wish List


1. Barang-barang yang saya pengen banget punya sebelum tahun berganti:

● giwang (anting model tindik) silver/emas putih
● jaket yang slim tapi tetep hangat
● payung lipat motif
● Tas selempang yang talinya panjang

2. Tempat yang pengen saya kunjungi di tahun 2014:

● Palembang
● Batam

3. Hal yang ingin saya lakukan awal tahun 2014:

● kembali menggambar dan menempelnya di dinding kamar sampai penuh
● ganti nomor kartu ponsel tanpa perlu konfirmasi sana-sini

Envy? Maybe just a lil bit


Tanggal 28 desember 2013, sepupuku ini bakalan nikah. Seisi rumah sibuk. Dia ini, cuma beda beberapa bulan aja usianya dariku. Dia bulan juni, saya november. Makanya, dia ini selalu dibilang saudara kembarku. Dari kecil udah ngikutin nyokapku terus. Sama nyokap juga, dia dimarahin kayak anaknya beneran. Padahal... ada nyokap aslinya yang adalah adik dari nyokapku.

Beda banget dariku, sepupuku ini orangnya introvert. Susah mengungkapkan perasaannya. Dan, dia ini tipikal pendendam. Makanya, sampe saya SMA, meskipun kami bertahun2 bareng, kami ini nggak dekat. Saya nggak suka dengan sifatnya yang pendendam dan introvert. Dia, nggak menyukaiku karena (katanya) saya sering show up dan suka mendominasi. Jadi, meskipun sekolah di tempat yang sama, kami nggak pernah pergi dan pulang bareng. Kami juga nggak pernah bertegur sapa ketika di sekolah.

Dan, saya pergi untuk waktu yang lama demi menimba ilmu di perguruan tinggi. 5 tahun. Kami lost contact. Ketika saya kembali, dia masih di tempatnya. Jadi lebih dewasa dari sebelumnya. Ketika saya tahu kalau dia saudara sesusuan, saya sering minta dibonceng dia kemana tujuan saya. Sepertinya, kami melakukan forgive and forget. Sedikit demi sedikit, jarak diantara kami mulai memuai. Kami jadi sedikit lebih akrab.

Yang saya tahu, dia orang yang baik. Meski sedikt rebel, tapi masih bisa dimaklumi karena dia cowok. Sama orang yg lebih tua dia sopan. Sama anak2, dia pintar ngemong. Sama yang seusianya, dia tipikal down to earth. Kekurangannya, ada lah beberapa poin yang nggak etis kalo saya sebut disini.

Dan, di usianya yg 25, dia berencana nikah di tanggal 28 bulan ini! Dan seperti tekadnya, dia nggak ingin membebani siapapun (terkait dana) ketika dia menikah, dia membuktikannya. Sepupuku ini, sudah jadi laki-laki beneran ternyata. Haha.

Lalu saya, apa kabar saya??? Saya juga 25 lah ya? Ahahahahahahahahahaha

Benci ABI


Setelah hari itu saya jadi benci mendengar nama "abi". Tiga hari yang sungguh terasa bodoh. Lelaki itu, bernama evan. Tapi karena memang dasar sayanya ini bodoh, saya salah kira dan memanggilnya kak abi. Padahal... Dasar bodoh!

# # #

"Tante, di istiqlal ada shelter busway nggak? Kalo dari sini transit berapa kali?"

"Hm, kayaknya sih ada deh halte busway di istiqlal. Tapi, tante juga nggak seberapa tahu. Udah sih, besok tante anterin kesananya. Tenang aja."

"Emang Tina nggak mau pake mobil tante?"

"Tina mana berani bawa? Yang ada juga tante yang nyupirin dia. Lagian, dia ntar sore terbang ke singapura kok."

"Beneran tante? Emang tante berani nyetir ke istiqlal?"

"Bisa sih. Tapi tante nggak tau jalannya. Jadi, besok ada sepupu yang nganterin kok. Udah, kamu tenang aja. Yang penting nyampe di istiqlal jam 8 pagi kan?"

Saya nyengir. Bahagia. Padahal saya udah menyiapkan diri untuk sedikit tersesat, tapi, syukurlah kalau saya diperlakukan bak putri. Hii hii.

# # #

"Denger-denger kamu lulusan HI juga ya?"

"Iya."

"Saya juga lulusan HI loh. HI Unpar. Tapi tahunnya udah tua. Hehe."

"Oh, iya ya kak."

"Sekarang, aktivitas kamu apa? Denger-denger katanya kamu ini pinter tapi nggak diijinin kerja sama orangtuamu ya?"

Saya cuma nyengir.

"Lulusan HI itu gampang-gampang susah. Jurusan yang terlalu luas cakupannya jadi kalo ngomongin lapangan kerja, ujung-ujungnya idealisme ngilang nggak tau kemana. Perhatiin deh, lulusan HI banyakan kerjanya dimana: Di Bank. Sementara idealismenya kemana?"

Saya cuma senyum. Dalam hati membenarkan.

"Padahal, sejujurnya kalo dipikir-pikir, worthless banget deh anak HI kerja di Bank. Tapi kalo mau ngejer kedubes apa deplu, malahan didominasi sama lulusan hukum. Jarang yang HI malah. Kamu dulu masuk HI karena apa?"

"Kenapa ya kak, hm, dulu masih lugu kak. Pilih HI karena keren. Karena HI dulu rasanya langka. Nggak kayak komunikasi apa akuntansi yang dimana-mana ada. Hehe." Nggak tahu kenapa, saya sejujur itu.

"Nah, see. Saya dulu juga gitu. Denger HI itu, kayaknya keren. Dulu masuk Unpar, kalo bilang kuliah jurusan HI, kayaknya beda banget. Keren gimana gitu. Tapi, setelah lulus, baru mikir, sekedar keren itu ternyata nggak cukup."

Dia tersenyum lalu melanjutkan, "Makanya, kalo di dunia kerja, yang dibutuhin adalah skill. Kamu punya skill, hayok lanjut. Kalo nggak punya skill, ya kamu tertinggal. Dan, sekarang coba pikir, kerja apa yang paling enak?"

Saya nggak nyambung sama omongannya. Saya garuk-garuk kepala. Nggak tahu mau ngomong apa, saya nyengir dan bilang, "Hm, apa ya... " masih sambil nyengir.

"Di dunia ini.... blaa blaa blaa." Saya mendengar angka statistik itu disebut-sebut lagi. Yang di dunia ini uang melimpah justru dipegang oleh manusia dengan statistik paling rendah, sementara mayoritas manusia berkutat pada pekerjaan dengan gaji kecil. Lalu, kurva yang pernah saya lihat di salah satu seminar itu pun membayang di depan mataku lagi. Tapi, saya masih saja duduk di kursi dan mendengar orang asing di depanku ini terus berbicara. Kenapa saya nggak pergi saja? Karena dia terus berbicara dan berbicara...

"Dan, kamu tahu nggak, lebih enak berbisnis dengan barang atau berbisnis dengan orang?"

Saya sebenernya capek, tapi entahlah, mungkin saya ngerasa nggak enak, mungkin saya menghormati tante si pemilik rumah, entahlah. Jadi saya tetep menjawab, "Hm, saya sih nggak bisa dagang kak. Jadi, saya lebih suka berurusan dengan orang daripada barang."

"That's right. Lebih enak dan mudah berurusan dengan orang ketimbang barang. Jadi, berbisnislah dengan orang jangan berbisnis dengan barang." Dia tersenyum.

Sebenarnya saya nggak mengerti dengan apa yang dia katakan. Tapi, demi kesopanan, saya mencoba tersenyum.

"Well, saya ada urusan bentar. Jadi saya pergi dulu ya. Makasih buat diskusi kita sore ini. Fiko, Abi pergi dulu ya.."

Fiko, anak tante si pemilik rumah cuma mengangguk. Sedetik kemudian dia berteriak, "Abi, besok kita jadi jalan-jalan kan yah?"

Lelaki itu menengok, sambil tersenyum dia melayangkan jempolnya. Lalu berlalu.

"Tante, dia itu siapa sih? Sepupunya tante?

"Hm, dia itu sepupuan sama iparnya tante."

"Oh, kerjanya apa tante?"

"Hm, kalo misalnya SCTV mau bikin mug atau jam itu dia yang ngurusin. Yah, semacam itu lah."

Tante seperti nggak yakin dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Tapi, sekali lagi, saya memang sedang bodoh saat itu.

# # #

"Vi, udah siap? Kamu dianter sampe istiqlal aja?"

"Iya tante. Janjian sama temen ketemu di halte istiqlal. Katanya pas depan pintu masuk istiqlal. Fiko ikut tante?"

"Iya. Ini kan masih jam 3 in 1. Jadi biar mobil penuh Fiko juga diajak aja."

"Trus, dari istiqlal tante mau kemana?"

"Paling ngajak Fiko jalan keliling-keliling. Udah yuk, mobilnya ada di depan.

"Fik, ayo ke mobil." Saya menuju parkiran. Disana sudah berdiri lelaki itu, sambil memegang lap yang sesekali digosokkan di kaca depan mobil. Ford merah itu kelihatan mentereng sekali.

Saya duduk di kursi belakang di samping Fiko. Anak kelas 3 SD itu kelihatan masih mengantuk. Saya melirik jam di hape. Masih jam 7. Lelaki itu sudah sigap di depan stir. Tante duduk di sebelahnya.

"Kita ke istiqlal kan ini?" Sambil fokus ke jalan, lelaki itu mengkonfirmasi ulang."

"Bi, tau halte istiqlal nggak? Katanya Novi minta turun disitu. Janjian sama temennya."

"Iya, katanya pas depan pintu masuk istiqlal."

"Istiqlal itu banyak pintu masuknya, Nov. Haltenya juga ada beberapa disana. Ntar kita puterin aja istiqlal ya. Kamu sambil sms temenmu."

Saya sigap dengan hape di tangan. Dan, ternyata cuma lima belas menitan saya udah nyampe di istiqlal. Dengan selamat. Saya mengucapkan terima kasih, lalu turun. Mengirim sms ke teman saya, lalu melihat-lihat sekeliling. Ford merah milik tante melaju keluar dari istiqlal. Saya takjub dengan masjid di depan saya. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di area istiqlal.

# # #

"Fik, tadi jalan-jalan kemana aja? Kok jam segini udah pulang?"

"Keliling-keliling aja tadi si Abi. Diajakin mampir ke senayan, malah ke grand ambassador. Mobilnya tadi mau dipinjem sama Abi ke Bekasi."

"Oh. Emang kak Abi tinggal dimana fik?"

"Hah, siapa?"

"Kak Abi. Udah pulang?"

"Hah? Abi? Lagi ke Bekasi."

"Bawa mobil?"

"Ho oh."

# # #

"Tante, Novi pulang dulu ya. Makasih buat semuanya. Maafin kalo ada salah-salah ya tan."

"Ih, kayak apa aja sih kamu itu. Hati-hati di jalan ya. Sering-sering main kesini. Papi kamu udah sampe mana?"

"Udah sampe depan tante. Paling bentar lagi nyampe. Salam buat Tina ya tan. Maaf nggak sempet ketemu."

"Iya, maafin Tina ya. Dia terbang terus. Nggak tahu, di Garuda sesibuk itu ya. Hehe."

Nggak ada 5 menit, Papi datang. Saya sudah siap dengan ransel hijau kesayangan. Saya pamit sekali lagi. Tante dan Fiko mengantar sampai pintu. Saya dan Papi menuju mobil.

Saya memilih duduk di kursi belakang. Membayangkan akan menempuh perjalanan jauh, bikin badan pegal-pegal. Jadi saya mengantisipasi untuk bisa ngelurusin badan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, ponsel saya berbunyi. Dari nyokap.

"Assalamu'alaikum. Kenapa mom? Ini ade udah dijemput sama Papi. Udah mau pulang."

"Iya, hati-hati. Banyak2 berdoa. Tadi barusan tante telp mom. Ngaku semuanya. Jadi kamu disana ketemu sama Evan? Evan nginep disana?"

"Hah, Evan siapa mom? Kemaren sih emang ada orang tapi bukannya namanya Abi ya? Tante sama Fiko manggilnya Abi."

"Hah, jadi tante sama Fiko udah manggil Evan dengan Abi?  Astaghfirullah nikah aja belum. Ya udah lah, alhamdulillah kalo kamu kamu nggak tahu nggak apa-apa. Lebih bagus malah. Jadi nggak ngotorin hati kamu. Ya udah, banyak-banyak berdoa selama perjalanan ya. Hati-hati di jalan ya."

Saya nge-blank. Setelah mengucapkan salam saya menutup telp. Lalu, otak saya menyambung-nyambungkan peristiwa yang kemarin nggak terlihat oleh saya. Saya pernah mendengar nama Evan tersebut dalam percakapan nyokap dan tante. Evan, yang saya tahu adalah lelaki yang usianya jauh lebih muda dari tante, yang (katanya) nempel-nempel tante dan sering morotin uang tante. Dari beberapa kali yang saya dengar, nyokap sering menasehati tante untuk nggak terus-terusan berhubungan dengan Evan. Karena tiap kali tante mengadu Evan pinjam uang sekian, minta transfer sekian. Entahlah.

Tiba-tiba, air mata saya berebut keluar satu persatu. Di kursi belakang mobil, saya pura-pura berbaring. Saya berusaha menyembunyikan tangis dari Papi yang sedang serius menyetir. Entah kenapa, saya sedih sekali. Saya memikirkan tante, tina, dan fiko. Saya kasihan pada kehidupan mereka. Tapi, entahlah. Kenapa manusia bisa bodoh begitu? Entahlah. Saya benci memikirkannya.

Sejak hari itu, entah kenapa saya benci mendengar nama Abi. Entahlah. Saya merasa terganggu saja.

# # #

Flashback kejadian di pertengahan 2013 lalu. Hari ini, saya dengar tante si pemilik rumah bercerita kalau Evan sudah kabur entah kemana setelah mengantongi sekian rupiah. 'Kenapa tante nggak lapor polisi?' Tanya saya dalam hati. Itukah yang dinamakan cinta? Sungguh bodoh sekali.

Ceracau (Yang Lain)


Akhir-akhir ini saya mengabaikan blog saya. Iya. Bukan, bukan karena saya nggak punya waktu. Waktu saya sangat amat luang. Saya masih jadi anak bungsu yang sukanya manja. Iya. Bukan, bukan karena paket internet saya habis. Paket saya unlimited 24 jam whole time. Speedy. Yang bayar kakak ipar saya. Saya tinggal puas make tanpa merasa bersalah aja. Iya. Bukan, bukan karena laptop atau gadget nggak bisa dipake. Seluruh gadget dan laptop selalu bisa saya sabotase kapanpun. Dengan alasan apapun. Iya. Bukan, bukan karena nggak ada hal-hal yang saya lewati yang bisa saya ceritakan. Saya hanya malas merangkai kata-kata saja. Rasanya, membosankan. Kenapa mesti berkata kalau nggak ada artinya? Saya pernah dinasehati oleh teman karena hal ini. Katanya, blog saya hanya berisi sampah. Kenapa nggak digunain untuk menyampaikan hal-hal yang bermanfaat? Saat itu, saya berdialog dengannya panjang kali lebar. Yang sebenarnya intinya saya hanya membuat pembelaan diri saja sih. Karena toh, sebenarnya saya sepakat dengan pernyataannya. Dengan apa yang dilakukannya. Haha, tapi kenapa orang nggak bisa mengerti dengan pernyataan, "that's not my thing" ya? Haha

Jadi, selama saya masih belum bisa win the self-battle, saya berencana untuk nggak nulis apa-apa dulu di blog ini. Mungkin, saya akan menulis lagi, kalau saya punya berita yang sangat baik untuk saya beritahukan kepada dunia. Memajang undangan pernikahan saya misalnya. Haha.

Well then, biarkan saya beristirahat dari dunia blog kalau begitu.


Senyap


Sepertinya,
Untuk saat ini,
  Nggak ada lagi yang ingin saya katakan.

25 (Ever Had You Grateful of Your Life?)


Tomorrow will be a new day, won't it?! It's November 1st of 3rd-year i've been coming back to my home. It's just feeling so... luckyly. I was so grateful for changing my reason of why. I was so easy living for growing up of mind. And for sure, it was a good thing for forgetting a lot. And i do learn a lot.

From now on, I won't regret my life even more. I'm grateful for who i am. I'm grateful for where i'm from. I'm grateful for what've happened in me. I'm grateful for everything i've had. Everything surroundings, it will become pretty gift to me, won't it?! Well yeah, i'm grateful for living fine, healthy, and happy for 25 years.

Hidup dengan baik ya, haps.

Nothing to Lose


Hari ini saya beraktivitas seperti biasa. Pagi-pagi saya udah berangkat ke Robbani buat ngajar tahsin karyawati disana. Spesialnya, saya dianter sama sista'. Ahahahaha, demi saya dia melawan ketakutannya. Dia mulai berani bawa motor, ngebonceng saya, destinasi jauh pulak. Ahahahaha. Terpaksa, soalnya saya princess di rumah. Cuma saya yang nggak bisa ngendarain motor. Jadi, kemana-mana saya mesti diantar. Dan, kebetulan nyokap baru pulang dari luar kota, nyampe rumah jam 12 malam. Jadi, setengah 7 pagi terlalu dini buat nyokap nganter saya ke Kedaton. Sepupu pun nggak jauh beda. Jam 1 dini hari baru pulang kerja. Jadi, jam setengah tujuh disuruh nganter saya, yang ada dia membahayakan nyawa saya. Haha. Jadi, sista' lah yang mengurus saya pagi-pagi. Hii hii

Pulang dari ngajar, saya nyengajain jalan. Emang rutinitas saya, pulang dari Robbani saya naek angkot trus jalan kaki masuk gang rumah. Jam setengah 9 matahari masih bagus buat tubuh kan?! Jadi saya sengaja nggak minta di jemput. Hitung-hitung olahraga pagi. Sampe rumah, saya ingat kalo ini tanggal 19. Pengumuman LIPI! Langsung saya nyalain gadget buka situs LIPI. Saya selalu pake fasilitas search engine di bagian status. Pilih "Pelamar yang dipanggil ujian psikotes dan wawancara", pilih "S1", pilih "HI/Ilmu Politik Internasional", trus klik cari. Dan, tararaaaaaaaa... muncul deh tampilan di bawah ini:

via lipi(dot)go(dot)id

Ahak, ahak, ahak, ternyata nama saya masih nyangkut aja di urutan terakhir. Hii hii. Ngerasa lucu aja sih. Soalnya, saya ini minim persiapan. Apa yang saya siapkan? Niat saja saya masih setengah-setengah. Sebentar-sebentar semangat, sebentar-sebentar ragu. Haa haa. Tapi, ya sudahlah. Saya akan tetap menghadapinya. Apa yang telah kau mulai, selesaikanlah. Itu ucapan saya untuk diriku sendiri. Trus, ini adalah tahapan terakhir dari prosedural LIPI. Sekali lagi, saya mengingatkan diriku. Buat saya, jadi bagian dari LIPI atau tidak, nothing to lose. Kalo keterima, saya akan lihat LIPI-nya, bukan PNS-nya. Agar saya bisa mencintai pekerjaan tersebut. Kalo saya nggak keterima, saya akan kembali ke aktivitasku semula. Hidup saya membahagiakan, kok. Saya nggak dapat tuntutan apa-apa dari orangtua dan keluarga. Jadi, saya nikmati saja apa yang akan Allah berikan ke saya. Tadi juga keluarga bilang ke saya, keterima atau nggak, nggak ada ngaruhnya buat mereka. Saya keterima di LIPI, itu buat saya sendiri. Mereka dapat apa? Saya nggak keterima di LIPI, mereka kehilangan apa? Nothing to lose juga buat keluarga saya. Ahahahaha

Well, saya nulis ini juga barusan pulang dari jalan-jalan sekeluarga. Family time setelah sekian lama. Bareng keponakan dua itu seru-seruan. Ngabisin uangnya babeh mereka (kakak iparku). Ahahahahahaha. InsyaAllah bulan depan mau rekreasi sekeluarga ke Kiluan Dolphin. (Semoga bisa terlaksana Ya Allah..... Aamiin). Secara, bulan November itu bulan istimewa di keluargaku. Cihuyyyy


Selamat Idul Adha 1434 H


Heihoooooooo, kemaren idul adha. Hari ini juga masih rangkaian idul adha. Idul adha 3hari kan yah durasinya? Hihi asyiknyaaaaaaa... iyey....

Kemaren kami sekeluarga udah nikmatin lezatnya daging. Nyokap masak tongseng, daging goreng kecap, sama sop iga. Saya, sukkkkkaaaaaaa banget banget banget banget.

Hari ini kambing kurban kakak ipar baru dipotong. Rencana kami, nyateeeeee.... cihuyyy. Daging sapi yang semalem dianterin sama temen nyokap juga masih ada di kulkas. Rencana mau digiling dibikin bakso. Aunty kayaknya masih terobsesi bikin rendang deh. Haha, i love daging to the much.

Kemaren ada wacana mau masak soto betawi juga. Pokoknya, diolah jadi apapun, daging tetaplah daging yang saya suka ♥

Waaaaaahhhhhh, semoga semua antusias dan bisa bahagia kayak saya yaaaa. Ahahahahahaha

Selamat idul Adha 1434 H semuaaaa.... semoga semua berbahagia di hari raya ;)

(Another) Visit Jakarta


Subhanallah.... kemaren saya cuma di Jakarta 3 hari. Untuk ukuran saya, itu singkat banget. Berangkat dari rumah malam jum'at, balik dari Jakarta ahad siang. Wew, bener-bener niat idul Adha nggak terlewat dan saya bisa puas makan daging bareng ma famz :D

Ngapain saya ke Jakarta? Saya mesti verifikasi berkas hari sabtu dan ikut tes hari ahad. Yep, di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Meski kemaren saya bilang saya nggak niat, saya cuma maen2, tapi saya jalani apa yang udah saya mulai. Tapi saya nggak really effort to get it. Saya nggak bawa apapun buat belajar. Dan saya mengisolir diri dari internet sehingga nggak browsing buat belajar. Intinya, saya mau nyanteee ngehadepin semua rangkaian tes LIPI itu. Nggak terobsesi buat keterima ataupun masuk kesana. Tapi sekali lagi, saya akan tetap menjalani apa-apa yang sudah saya mulai. Meski dengan  cara saya yang agaknya selengekan.

But well, alhamdulillah tesnya lancar-lancar aja. TKD (Tes kemampuan Dasar) terdiri dari 100 soal yang pembahasannya terbagi menjadi 3 yaitu TWK (Tes Wawasan Kebangsaan), TIU ( Tes Intelegensi Umum) dan TKP (Tes Karakteristik Pribadi).

Dari soal yang saya dapat, TWK berisi tentang soal seputar UUD 45 dan pasal2nya; bentuk negara Indonesia ini demokrasi apa; makna Pancasila sebagai falsafah, ideologi, dan jati luhur; tokoh2 penting dalam sejarah nasional; durasi politik apartheid, beberapa hal terkait TNI; masalah hutang lugri pd masa orde baru, dan tentang pendidikan politik; juga PPKI dan BPUPKI. Pada tes LIPI tgl 13 Oktober kemarin, saya dapat skor 110 untuk TWK.

Untuk soal TIU, saya ngerasa parah. Gimana enggak, belajar aja kagak. 7 tahun saya udah putus hubungan sama matematika. Jadi, ketika ada soal tentang kubus pun, saya kebingungan ngejawab. Apalagi tentang bunga utang. Idih, ngapain juga saya mesti ikut mikirin hal riba. Well, Di TIU yang saya dapat tentang deret (ini alhamdulillah saya bisa semua); luas permukaan kubus; segitiga; soal cerita tentang umur, persamaan x dan y (diganti n dan p); persentase bunga pinjaman; soal cerita dengan bebetapa nama dan urutan mereka; antonim dan sinonim; silogisme, kesimpulan, premis mayor dan minor, serta negasi. Asli parah. Saya ngerasa ngeblank banyak. Skor saya aja cuma 90.

Yang terakhir TKP. Ini model soal menjebak. Karena nggak ada jawaban benar atau salah. Hanya saja kamu benar, cukup benar, sangat benar, atau excellent. Saya nggak begitu peduli dengan soal ini. Saya cukup menjawab sesuai dengan idealisme saya. Dan beberapa rasionalisasi saja. Menurutku begitu sih. Habis, semua jawaban kan esensinya adalah sikap kita itu sendiri. Untuk soal ini, skor saya 156.

Jadi, total skor saya pada tes LIPI kemarin 356. Bukan jajaran tertinggi. Tapi, alhamdulillah masuk kategori lumayan baik sih ya kayaknya. Tapi entahlah, pengumuman lengkap belum keluar sih.

Well, tahap selanjutnya psikotes dan wawancara. Hm, saya bakal lolos untuk ngikutin rangkaian dua itu apa nggak, saya nggak tahu. Tapi secara kasaran, berdasarkan data2 yang sudah keluar dan estimasi kasaran, dari 2400 peserta ujian tulis, saya memperkirakan diri saya masuk ke 200 rangking teratas. Dan lantas info yang saya terima untuk tahap selanjutnya akan dipanggil sekitar 1200an orang. Jadi, hipotesis awal, saya bakalan lolos tahap selanjutnya kan yah? Ahahaha, pede tingkat jendral. Ahahahaha

Yah, whatever. Lolos apa nggak, semua kan bakalan jadi pengalaman yang berharga. Wish me for all the best lah ya ;)

Anw, selamat menyambut idul Adha 1434H. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Season Changed


Ini bulan Oktober loh yah. Bulan raya yang dari awal tahun saya udah gegap gempita nunggu2nya. Di bulan ini ada Idul Adha. Momen terbahagia dalam hidup yang saya bisa puas makan daging tanpa perlu mikir kocek ataupun mikir hal-hal lainnya. Mestinya saya bahagia. Sangat amat bahagia. Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiii,

Tahun ini kepala saya nggak nyante. Moment idul Adha kali ini keganggu sama prosedural LIPI yang kemaren sempet saya tunggu2 dengan antusias. Ngapa coba saya mesti dijadwalin ikut tes tanggal 13, di Jakarta pulak. Sementara idul Adha tanggal 15. Saya jadi nggak bersemangat lagi buat ngikutin LIPI ini. Yah, whatever. Toh, dari awal niat saya emang nggak serius sih. Tapiiiiiiiiiiiiii,

Karena nggak seriusnya niat saya itu lah, kepala saya mulai nggak nyante nih. Idul Adha, alone. Di tempat yang no body, i mean, gimana saya bisa dapet puas makan daging di Jakarta? Saya mesti kerumah pak SBY? Apa mampir ke rumah Yasmin kayak kasusnya ust Solmed minta ketupat plus daging gitu? Apa ketempatnya Olga yang katanya baik hati dan hobi bagi2 duit itu? Bisa makan daging plus dapet santunan? *isikepalarandomparah*

Fokus ke tes? Halah, ngapain coba. Ini waktunya main2, nggak perlu serius. Toh, dari awal saya nggak niat jadi PNS. Jadi, bukan tujuan utama buat masuk kesana. Hidup saya nyaman, nggak ada tuntutan buat bisa kerja kantoran. Jadi, yang mesti saya lakukan adalah santee kan? Daripada terobsesi, kalo nggak dapet yang ada frustasi. Kalo dapet dan terlena, jadi ikut2 korupsi kecil-kecilan tapi terus menerus, malah nabung dosa. Just take it easy. *brbambilcermin

Nggak maksud nyinyir, tapi beberapa figur PNS yang saya temui baik di Lampung, Salatiga, maupun Makassar, sering menyalahgunakan beberapa hal terkait kedudukan PNS tsb. Jum'at ngeliburin diri sendiri; dateng ngantor telat pake banget. Apa nggak dateng masih pake daster, finger print doang abis itu balik rumah lagi nyante2; Mobil dinas malah dipake anaknya pamer sana-sini; jam pulang ngejadwalin masing2; seenaknya ninggalin kantor di jam makan siang dan nggak balik kantor lagi; di kantor cuma ngerumpi sana-sini dan palingan di depan komputer main game. Onde mandeeeee....

Tapi yah, emang nggak semua. Cuma sebagian (besar) sih. Well, kalo saya beneran jadi PNS, saya pun nggak tauk bakal jadi kayak mereka apa bener2 bisa jujur dan amanah? Iman ini kan naik dan turun. Gampang tergoda dengan materi2 apalagi kalo keadaan yang mepet2 kepepet. Entahlah.

LIPI, Jakarta, dan Idul Adha. Aaaah, saya mau makan daging. Puas2 makan daging.

DAGING.

AGING.

GING.

NG.

.

Me at the Door


Hey yah, saya sedang flu. Setelah kemaren lihat pengumuman dan dapat email dari LIPI kalo saya dipanggil untuk ikut ujian tulis tanggal 13 Oktober nanti. Dan, saya excited. Tapi nggak menggebu-gebu amat. Kalo baik ya semoga saya terus lanjut. Nggak pun, nggak masalah. Mungkin saya akan fokus ke nikah dan atau lanjut s2. *drunken-lendir-sebab-flu* Haha

Tadi pagi saya masih sempet ke Kedaton buat rutinitas sabtu pagi saya. Dengan suara bindeng dan hidung meler, saya masih ngebacain ayat kursi buat nge-tahsin bacaan alQur'an karyawati Rabbani. Pas pulang saya teler berat. Nyengajain jalan biar kena matahari pagi, eh sampe rumah malah tepar saking nggak kuatnya. Dan nafsu makan hilang.

Ngecek SMS ada pemberitahuan dari senior sekaligus temen baik yang selalu nolongin dalam pencarian data buat skripsi, Kak Ita, yang udah ngelahirin bayi laki-laki. Ikutan seneng. Trus, nerusin berita ke rahma, rysmah, huda, nurul dan kak farah.

Setelah shalat dzuhur, sempet denger suara tv yang isinya ceramah. Sempet heran sekaligus marah. Karena penceramah memberi informasi yang menurutku nggak sesuai. Dia menyebutkan, ketika Rasulullah ditanya istrinya 'Aisyah, kenapa capek2 shalat sampe kakinya bengkak padahal Allah udah ngejamin syurga bagi Rasulullah? Si penceramah bilang, Rasulullah ngejawab kalo Apa yang dilakukannya bukan karena syurga ataupun takut masuk neraka, tapi karena Rasulullah mencari keridhoan Allah Subhanahu wata'ala. Lah, saya langsung keluar kamar dan ngelihat tv mana yang nyiarin ceramah itu. Ternyata tv merah. Ada kakak ipar disitu yang duduk pegang remot.

Trus, saya protes kenapa riwayat yang disampaikan seperti itu? Sementara yang pernah saya dapat bukan begitu. Ternyata kakak ipar pun membatin, informasi yang dia dapat pun selaras dengan saya. Denger suara saya dan kakak ipar yang rame, nyokap keluar kamar gabung di ruang tengah. Kan, jawaban Rasulullah terkait dengan orang yang pandai bersyukur kan ya? Jadi, shalatnya Rasulullah itu adalah bentuk kesyukuran Rasulullah. Please, CMIIW. Dan, saya menyayangkan penyampaian informasi yang keliru begitu. Bukankah ada hadits yang menyebutkan agar kita berhati-hati dalam membawa nama Rasulullah atas sebuah ilmu? Kalo kita bilang itu datangnya dari Rasulullah padahal bukan, kita disiapkan tempat duduk di neraka loh. Wa iyya 'udzubillah. Jangan sampe kita terjerumus.

Kemaren saya menyadari sebuah hal, saat saya harus ikut lomba menggambar demi memeriahkan acara guru-guru PAUD se-kota Bandar Lampung. When i thought i tried my really best, i realized that so was everyone around me. Jadi saya nggak mau ambisius untuk ngejer hal-hal nggak abadi lagi. Cukup saja.

Well, besok saya masih harus kumpul sama cewek2 kece nan sholihah buat ngeganti hari Jum'at yang canceled. Dan setelahnya, saya mesti ke Malahayati. Dengan kondisi flu berat kayak gini, mungkin saya mesti memberitahu temen2 di Malahayati buat off meeting dulu deh. Tapi, semoga ntar malam flu saya lenyap dan besok saya bisa kembali bugar seperti biasa deh. Aamiin..

Angkasamu, Semestaku


Apa yang kulakukan ini tak ubahnya bagai permainan layang-layang. Kuciptakan senar panjang mengantarai kita berdua. Jika angin mengiramai angkasamu, kuurai senar panjang itu. Kuulur seirama resonansi angin, agar ia tak mencurimu dariku. Sesekali kumenarik senar ditangan, sehasta demi sehasta. Kau tahu, kusangat takut jika adamu hilang dari pandangku.
Layang-layangku, semestaku adalah berjibaku dengan tarik ulur untuk membersamai angkasamu. Menarikmu terus menerus hanya akan membuatku kehilanganmu. Pun selalu mengulurmu adalah kebodohan yang tak akan kulakukan.
Layang-layangku, mengangkasalah. Biar semestaku menengarai angkasamu.
*Pict taken randomly from google*

How About Me?


Saya bingung... pengumuman tes tanggal 7. Sementara tgl 9 udah verifikasi langsung. Tesnya tanggal 10. Mepet2 banget sih... Ini gawean di Lampung bisa aja sih kapan aja ditinggalin (sementara), cumaaa... saya kan pengen berangkat ke Jakartanya sama babeh. Lha, kl jadwalnya mepet2 gitu, babeh mana mauu ganti2 jadwalnya... yang ada mesti saya lah yang ngikutin jadwalnya babeh. Iya, kl pas ngepasin tanggal 7 atau 8 babeh di Lampung. Kalo pas tanggal itu babeh malah ngegawe di Jakarta, saya gimanaaaa?

Nyokap bilang kl babeh nggak bisa, beliau yang bakal nganter sih. Tapi, tapi, esensinya kan bukan itu. Huuhuu... Mesti bareng babeh, pokoknya. Nah, kl saya berangkatnya sebelum pengumuman, kan gondok banget kalo ternyata namaku nggak ada di pengumuman lulus. Haaaaaaaaahhhhh, how about me?
Haruskah saya naikkin kepedean dengan berpikir kalo saya bakalan lulus2 aja? Dari 40 orang, berada di urutan keempat, apakah itu jadi indikasi kalo saya bakalan lulus tahap selanjutnya? Tapi, tapi, kan belum jelas variabel yang dipake dalam penilaian mereka. How about meeeeeee?

How about me? Seminggu di Jakarta itu, biayanya macem sebulan saya dirumah sih. Dan, saya sedang cekak... dua bulan ini saya mesti bersabar dengan kondisi dompet yang semakin kurus dan kurus. Nodong ortu? I knew them well. Tanpa diminta pun mereka bakalan ngasih. Cumaaaaaaaaaa, i'm twenty something nih. Standar angpaunya udah semakin mengabur. Masuk kategori kanak-kanak nggak mungkin. Masuk kategori remaja, nggak memenuhi syarat, masuk kategori dewasa... mana ada orang dewasa dapat angpau? Jikapun ada angpau bagi orang dewasa, indikasinya mesti ke KKN dan semacamnya. Ngabur banget kan? Yaaaaaaahhhhh....

Tuhan, how about me? Apakah ini karena saya nggak serius belajar? Apakah ini karena niat saya yang setengah-setengah? Apakah ini karena emang semua itu hal indah tapi bukan yang terbaik? Meskipun begitu, biarkan saya selesaikan tahap-tahap itu sampe terakhir, Tuhan. Meski saya nggak belajar, meski saya setengah hati, meski saya sendiri masih ragu dengan semua ini, biarkan saya, setidaknya sekali, untuk melakukan semua tahapan ini.

Tuhan, berikan saya kelancaran. Allaahumma yassir walaa tuassir. Watammim bil khoiir. Yaa fataahu wabika nasta'in... (Ya Allah mudahkanlah dan jangan Engkau persulit. Sempurnakanlah dengan yang baik. Wahai Maha Pembuka, dan hanya kepadamu kami mohon pertolongan).

(Lanjutan) Bazar Buku Gramedia


Iyeyyyyy,,, finally tadi sore saya mampir gramed juga. Huft.. alhamdulillah tadi saya ke SMA 9. Jadi pulangnya saya mutusin mampir gramed dulu. Kalo nggak gitu, sampe bazar selese, saya mana punya kesempatan ke gramed. Too much too do whereas it's just a little time sih.

Duit di dompet, yang biru sih tinggal satu-satunya. Selebihnya, adanya pattimura. Yang merah gambar pak karno dan bung hattanya mah mana ada. Ini akhir bulan, bung! Dompet pun tahu situasinya. Hanya yah, otak saya seperti melupakan kondisi diri. Awal niat, lihat-lihat aja dulu ah.. but well yeah, gramed menang. Pada akhirnya saya kalap dan nenteng 5 buku ke kasir.

Emang cukup duit yang selembar itu doang? Guess what, duit saya masih ada kembaliannya goceng loh... Hiihii. Itulah, pas dateng, lihat-lihat arena, brb saya kalap gegara lihat ada buku 181 halaman kertas HVS putih in english version harganya 5ribu doang! Hari gini, buku bukan bekas harga goceng? Wow yah... Saya langsung aja ngambil 3 buku dengan tema beda.

Trus, karena pajangan bukunya yang bisa saya lihat-lihat masih banyak, saya tetiba sumringah pas nemu buku metode penelitian sosial dgn harga 15rb. Hiihii  aneh banget, kuliah aja udah selese, jadi peneliti juga belum fix lolos apa kagak, tapi yaa tetep aja saya nggak mikir lama-lama dan maen tenteng aja tuh buku. Mikirnya, halah totalan baru 30rb doang ini.

Dan, pas muterin tumpukan buku, tetiba saya menemukan buku dengan embel2 deplu. Anehnya, saya ambil aja tuh buku. Haddehh... ngapa coba ya saya ini? Tapi yaa sudahlah. Buat pantes2an aja sih sebagai alumni HI. Tadi aja, pegang buku Obama harganya cuman 20rb pengen nenteng aja. Buku Bill Clinton hard cover cuma 25rb tergiur juga. Buku Seri Cina, Mesir, dan kepulauan Britania harganya masing2 10rb, udah dilema aja. Tapi karena toh duit yang selembar itu nggak bisa menduplikasi diri di dompet, maka yaa sudahlah. Saya letakkan kembali Obama, Clinton, Mesir, Cina dan Britania kembali ke tempatnya. #mupeng

Well tadi juga ada buku pemikiran Marxis discount 40%. Pengen ngambil sih tadi, cuma yaaaaahhhh, on the second thought saya kembalikan lagi. Lain kali aja kalo berjodoh lagi. Ehehehehe

Saya jadi keinget percakapan dengan seorang teman saat maen ke gramedia matraman bulan juni lalu. Saya senyum-senyum sendiri inget pertanyaannya yang nggak bisa saya jawab saat itu. Hiihii

Well, biarin lah duit biru melayang nggak nongkrong lagi di dalam dompet. It's ok. Ongkos buat hari jum'at, sabtu, ahad, rabu, jum'at, dan sabtu kedepan gimana? Haahaa, I'm preparing my foot buat kuat jalan kaki. Hiihii

(LAGI) Bazar Buku Gramedia


Tadi pas naek angkot pulang, saya baca spanduk yang dipajang depan Gramedia Bandar Lampung. Bakal ada bazar buku murah tanggal 23-29 September. Ditulisin sih item-itemnya tadi apa aja. Tapi abang angkotnya malah terabas aja, nggak nyadar kalo ada penumpangnya yang mupeng-mupeng baca spanduk dari dalam angkot. Huft

Wew, jelas saya excited banget lah. Udah 2 bulan semenjak ramadhan kemaren saya nggak nginjekin kaki ke gramed. Saya tuh suka aja maen ke gramed. Apa ya, gramedia Bandar Lampung lah yang pertama kali mengajarkan saya asyiknya sensasi baca buku. Yang nyenengin hati saya buat seneng ama sekolah. Jadi, pas saya masih SD tuh, saya diajak nyokap ke gramed. Dulu masih sepiiii banget. Minat orang buat masuk ke gramed nggak seheboh sekarang. Mungkin karena dulu gramedia tuh kesannya eksklusif, cuma buat kalangan elit, dan semacamnya lah. Yang jelas, dulu jaman saya masih SD, orang lebih pilih ke Artomoro (Mall-nya Lampung saat itu) dibanding ke gramed.

Tapi, nggak buat saya. Saya suka banget suasananya gramedia. Gramedia bandar lampung tuh dua lantai. Kalo kita masuk, langsung ketemu pernak pernik sekolahan (ATK) yang cute banget. Karena letaknya pas sebelah tempat penitipan barang. Makanya, saya SD jadi seneng banget sama yang namanya sekolah. Soalnya, di gramedia, pajangannya tuh hal-hal berbau sekolah yang lucu-lucu, manis-manis, pokoknya nyenengin mata dan hati. Jalan deh nyusurin pernak-pernik sekolahan yang lucu-lucu itu sampe dapet tangga naek lantai dua. Naek tangga, langsung nyebur ke hamparan rak-rak buku. Saya SD suka banget suasana gramedia. Rasanya, semua buku ada disana. Apa aja. Buku Barbie, Majalah Bobo, Buku pelajaran Erlangga, buku orang tua, sampe komik, semua ada. Dan jaman saya SD, selalu ada satu buku di setiap item yang nggak diplastikin. Jadi, kita bebas buat baca.

Saya SMP, paling bisa ke gramed 3 kali sepekannya: Jum'at sepulang sekolah bareng temen-temen, Ahad bareng nyokap dan sista', serta satu hari yang saya pilih secara acak buat pergi sendirian. Saya, paling bisa berdiri dari jam 1 siang sampe jam 4 sore buat baca buku di gramedia. Trus, shalat ashar dimushala gramed, lanjutin baca lagi sampe jam 5. Trus pulang deh. Nggak beli apa-apa? Iya! Hihii

Baca buku apa? Dulu, saya paling suka baca buku dongeng tentang princess (cinderella, dkk), cerita anak-anak lainnya, majalah donal bebek, majalah bobo, dan nyari jawaban PR di buku-buku terbitan Erlangga. Haahaa.
Kenapa nggak beli? Saya dari kecil emang udah punya sifat irit (baca: pelit). Prinsip saya: Buat apa duit dibuang-buang kalo esensinya kita dapet? Mending duitnya saya pake beli makanan. Ahahahaha.. saya kecil emang suka banget makan (sampe sekarang malah) :D
Iya, saya punya prinsip kayak gitu. Ngapain saya beli bukunya, kalo saya udah bisa ngedapetin isinya dengan membaca gratis? Esensi buku apa, isinya kan? Dan, saya udah kenyang baca di gramedia, tanpa keluar modal, cukup modal kaki kuat berdiri berjam-jam. Trus, pernak-pernik sekolahan yang lucu dan manis itu, saya bahagia dengan ngelihatnya aja. Soalnya saya mikir, kalo pulpen, pensil, buku, yang cute kayak gitu, saya malah sayang buat make. Emang cantikan dipajang aja, dipandangin. Kalo dicoret-coret trus abis, jadi nelangsa rasanya. Trus, kenapa nggak dibeli buat dikoleksi? Hm, saya bukan tipikal orang yang suka koleksi sesuatu. Nggak telitian, nggak telaten ngerawat. Biarin mbak-mbak di gramed aja yang ngerawatin barang-barang itu, saya bahagia ngeliat barang-barang lucu itu bertengger ditempatnya. Yang saya perlu lakukan hanya meninjau koleksi (ngakunya doang) punyaku tersebut tiga kali seminggu. Tapi asli, kalo saya mulai males sekolah, saya hanya perlu menyambangi gramedia, membaur ditengah pernak-pernik sekolah yang lucu itu, pegang-pegang sambil histeris sendiri karen saking lucunya, dan tararaaa besok saya udah semangat lagi buat sekolah :)

Dengan semua kenangan baik gramed itulah yang membuat saya excited dengan ajakan gramed buat dateng kesana. Yakin bakalan beli padahal dompetmu aja isinya lembaran pattimura semua? Haahaa, nggak tau lah. Saya mau dateng-dateng aja dulu. Kangen gramed sih :)

Blurppp


Saya kangen. Tapi saya tahu, kangen itu sensasinya ketika ia ditahan, ditahan dan ditekan tak dibiarkan menemukan muaranya. Kalau kangen itu diberikan penawarnya, dia akan hilang. Sementara, bukankah sensasi kangen itu menyenangkan?

Saya kangen. Jadi, biarkan saja saya kangen. Toh, saya nggak ngerepotin orang dengan aktivitas kangen saya ini. Kangen itu artinya flash back. Disana kamu akan menemukan hal menarik atau hal-hal bodoh yang perlu kau sesali tapi kamu tahu dengan pasti kalo semua itu lucu.

Kalau kamu juga kangen, cepat hubungi saya. Kalau saya, saya tahan dengan semua penyiksaan kangen ini. Ahahahaha, bodoh.

Futuristik


Hal yang paling nggak pernah terlintas dikepalaku adalah keinginan untuk menjadi artis atau perawat. Nggak seperti teman-temanku yang lain, saya nggak pernah berkeinginan untuk menjadi artis terkenal dan dipuja-puja banyak orang. Kenapa? Mungkin, karena sejak kecil saya sudah jadi center of attention. Diantara saya bersaudara, saya yang paling "badut panggung". Dari satu panggung ke panggung yang lain, saya tampil berdeklamasi, berpuitisasi, teaterikal, dan pidato sana-sini. Sampai pada satu titik saya ingin melakoni peran seseorang yang terlupakan, terabaikan. Dan, disinilah saya sekarang, yang masih saja berkeinginan untuk bisa menuliskan kalimat: I AM NO MORE.

Lalu, perawat, bidan, dan sebangsanya. No way. Saya, paling anti dengan rumah sakit. Mencium aroma rumah sakit membuat saya lemas dan sakit kepala. Sejak kecil, saya paling anti dengan rumah sakit. Jangankan opname, menjenguk orang sakit di rumah sakit saja saya nggak pernah mau. Saya merasa sakit sendiri kalau berada di rumah sakit. Pun, saya takut dengan darah dan jarum suntik. Saya selalu mensugesti diri kalau saya ini kuat dan sehat, anti rumah sakit. Semoga hingga menutup usia nanti, saya tetap bisa menjadi orang yang anti rumah sakit. Saya ini kuat seperti beruang kan... :)

Maka hari ini, saya nggak menjadi artis nor perawat. Akan jadi apa saya kedepannya? Saya mengingat sebuah kalimat, DON'T GAZE YOUR FUTURE SADLY (build up the world by spirit of takwa)...

Iya, saya akan tenang-tenang saja menyambut masa depan saya. InsyaAllah yang terbaik :)

Sarap


Entah sejak kapan kumulai menyukai meraba dalam gelap. Kunikmati sensasinya. Sampai kuputus asa, lalu mencari seberkas cahaya. Sarap.

Smiling Face


Gazing someone has smiling face, I felt completely happy. Apalagi dia orangnya energik. Energik + murah senyum itu = good day. Energik gak berarti identik dengan cerewet loh ya. Hmm, saya suka dengan orang yang seperti itu. Meski kalo diperhatikan baik2, wajahnya sebenarnya nggak "wah", tapi enak aja kita ngeliatnya. Senyumnya itu, langsung masuk ke hati. Disenyumin gitu bikin saya melting aja. Ahahahaha :)

Ini tantangan buat saya supaya murah senyum nih. Baru tauk saya, kalau orang dengan wajah tersenyum itu lebih enak dilihat dibanding orang yang sok cool. Berasa mood booster gitu lah ya. Well yah, terlebih lagi, saya mesti belajar senyum tulus nih. Beda banget senyum kepaksa sama senyum yang emang dari dalem. Mendapati senyum di wajah orang itu, saya tahu bahwa sok cool sudah ketinggalan jaman. Ini eranya para manusia murah senyum. Ahahaha... Saya benar2 suka sama wajahnya yang senyum kayak gitu. Cakep :)

Baiklah, mari mulai menghiasi wajah dengan senyum. Katanya sih bikin awet muda. Jadi, biar wajah saya tetap baby face sampe berpuluh2 tahun ke depan. Muihihihihihihi

Defense Mechanism


Dulu sekali saya pernah menemukan kata ini di sebuah majalah. Kalo di-Indonesia-in jadi mekanisme defensif. Lalu, semacam diserang penasaran yang berkepanjangan, langsung saya cari artinya di kamus Bahasa Inggris (Kamus Oxford). Defense means perlindungan dalam melawan serangan/kritik. Mechanism means sebuah metode atau sistem krn memperoleh sesuatu. Jadi kalo digabungin, defense mechanism atau mekanisme defensif (mungkin) didefinisikan sebagai sebuah metode/cara yang dilakukan oleh seseorang untuk melindungi diri dalam menghadapi serangan/kritik dari orang lain. Nah, metode yang bagaimana itu? Mari kita menganalisa bersama...

Well, ketika kita melakukan kesalahan/memiliki kekurangan dan itu dilihat orang lain, lalu orang lain diluar kita menyerang kita dengan mengungkap kesalahan/kekurangan itu yang ada di diri kita, selalu ada metode yang kita lakukan dalam mempertahankan dan membela diri sendiri.

Ketika sebuah serangan dari orang lain datang kepada kita untuk sebuah hal yang tidak kita lakukan, ada pembelaan diri (self defense) yang kita lakukan untuk membersihkan nama kita. Entah itu sebuah klarifikasi atas kebenaran yang kita yakini, atau sekedar sikap acuh tak acuh, atau justru mengungkap fakta dan menunjuk orang lain sebagai pelaku kesalahan yang sebenarnya. Nah, manakala serangan tersebut mengangkat sebuah fakta yang sebenarnya memang kita lakukan, adalah sebuah naluri manusia untuk tetap saja dan sangat mungkin bagi kita membuat sebuah cara untuk membela diri sendiri, bahkan mungkin kita akan berupaya untuk menutup-nutupi kesalahan kita itu. Nah, adapun defense mechanism itu secara proyektif adalah sebuah cara melindungi diri dengan menyalahkan orang lain untuk menutupi rasa bersalah.

Dan saya rasa, setiap orang memiliki tendensi untuk melakukan mekanisme defensif ini. Contoh mudah, ketika kita nggak sengaja menyenggol gelas di pinggir meja hingga jatuh dan pecah, mungkin yang kita lakukan adalah menyalahkan orang yang menaruh gelas tersebut dengan berkata, "Kamu yang salah, kenapa naruh gelas di pinggir bukan di tengah?" Padahal bisa jadi karena kita yang nggak teliti dan hati-hati. Pun, ketika kita berada pada posisi orang yang menaruh gelas di pinggir meja tadi, kita juga akan menyalahkan orang yang menyenggol gelas tersebut. Karena dia membuat gelas tersebut jatuh dan pecah. Padahal kalau kita menaruh gelas tersebut di tengah meja, mungkin saja gelas tersebut nggak akan jatuh dan pecah.

Jelas saja, defense mechanism selayaknya tidak kita pertahankan. Namun, apalah daya, manusia memang begitu adanya. Jadi mungkin, kedepannya kita perlu untuk bercermin ke diri sendiri lebih banyak. Lebih lama. Untuk melihat kesalahan dan kekurangan kita lebih sering lagi, sebelum menyalahkan orang lain. Sebuah jalan nasehat menasehati itu emang lebih menentramkan dibanding metode menyerang atau kritik pedas yang melahirkan debat tak tentu arah.

Well, correct me if I'm wrong (CMIIW) :)

What a Life!


Kemarin saya udah ngerampungin berkas yang perlu diunggah ke situs instanti peneliti yang hendak saya masuki. Saingannya, untuk 1 posisi yang saya ingini, sampai kemarin udah ada 14 orang aja. Belum beberapa hari kedepan. Mungkin, bisa 50an orang. Atau lebih. But, who really that care sih? Lolos apa enggak, itu udah bukan wewenang saya. Wewenang saya hanya mengingini dan mengusahakan. Itu aja.

Pas kemaren saya ngunggah, nyokap sempet ngeliat. Karena saya yang biasanya ngedekem di kamar, kemaren tumbenan ngotak ngatik lepi di ruang keluarga. Pas depan tv pulak. Trus, setengah becanda setengah serius, saya bilang sama nyokap, "Mom, ade udah selese ngurus berkas semuanya nih. Kalo ternyata ade nggak lolos, nggak apa-apa ya, Mom." Plus diiringi cengiran khas saya.

Nyokap ngejawab, "Kalau kamu nggak lolos ya alhamdulillah." It was said without an expression loh. Sepupu yang ngedenger langsung nyamber, "Wew, it means...." dia ngambangin kalimatnya, disusul ngakak pulak. Wajah saya saat itu langsung yang kaku bingung mau ngeluarin ekspresi kayak apa. Saya nyengir aneh. "Ya kalo kamu nggak keterima, alhamdulillah aja. Tapi kalo keterima ya syukur lebih alhamdulillah." Nyokap nerusin kalimat ngejawab kekakuan di wajah saya. Ehehehe, saya nyengir lagi. Tapi dengan ekspresi seneng banget banget.

Itu peristiwa kemaren. Yang sampe tadi pagi, masih kebawa aja perasaan senengnya itu. Dan, it is life. Senang sedih itu datangnya beriringan. Susul menyusul. Saling bertukar dan bergantian. Siang tadi, waktu saya lihat Rahma (yg pernah saya ulas di Double R) tampil ol di Gtalk, saya sapa aja. Dengan nggak ngerasa aneh, saya langsung ngebahas aja tentang kelanjutan rencana kami jadi peneliti itu. Saya emang udah pernah bilang kan, kalo saya ngajakin juga Rahma buat sama-sama jadi peneliti di tulisan saya sebelumnya. Tapi, ternyata dia malah ngasih kabar yang bikin saya "deg" seketika. She said that her father passed away this morning. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... Saya, bingung mau bilang apa. Honestly, perasaan senang yang sebelumnya masih bertengger di hati saya, entah sudah terbang menguap begitu saja  mendengar kabar itu. Saya ikut sedih. Makanya, yang bisa saya bilang cuma, "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Saya turut berduka cita ya, Rahma..." Dan beberapa kalimat yang semoga bisa menjadi sedikit penghibur buat dia.

What a life, yah. Baru kemarin saya merasakan senang yang meletup-letup. Hari ini saya denger kabar yang membuat hati saya turut bersedih. Sebelumnya, Rahma emang udah sering ngulas tentang keadaan bokapnya di blog Catatan SU miliknya. Meski nggak selalu update, saya sering menyempatkan diri mampir dan membaca-baca tulisannya. Pun hari sabtu lalu, saat saya menelpon Rahma, dia sempet ngabarin ke saya sih tentang rencana kepulangan dia ke kampung halaman karena kondisi bokapnya yang sedang sakit.

It's an awkward situation for me, actually. Saya emang sering mati gaya dan semacam kesulitan untuk berhadapan dengan orang yang sedang mengalami kesedihan. Saya yang sering banget sarkastik emang rada kesulitan untuk memperlihatkan rasa empati. Saya nggak terlatih untuk berkata-kata manis demi menghibur mereka. Jadi, saya selalu membawa diri dengan, bagaimana jika saya yang berada dalam posisi mereka, apa yang saya inginkan agar dilakukan orang lain terhadap saya. Maka saya lebih suka diam dan memberi mereka ruang untuk menghadapi rasa sedih mereka. Saya pribadi, nggak suka kalau saya sedang sedih, trus ada orang yang bersikap mengasihani saya dengan berlebihan. Membuat saya semakin cengeng dan rasanya kesedihan itu semakin menghanyutkan saya saja. Pun, jelas nggak suka kalau saya sedang sedih, orang di sekitar saya sok-sok membuat lelucon dan tertawa-tawa. Jadi, saya lebih suka jika orang lain diam saja. Maka saya memposisikan diri memperlihatkan rasa turut berbela sungkawa secukupnya saja. Dengan pemikiran, mungkin dia juga punya pemikiran yang sama dengan saya. But, really thank if there's someone would like to tell me how to give some respect properly.

Rahma, semoga bisa tetep kuat dan sabar ya... Segala yang datangnya dari Allah, akan kembali kepada Allah. Rasulullah pun menangis, jadi kamu sedih dan kamu nangis itu, sah-sah aja. Hanya mengingatkan untuk nggak meratapi dan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Jadikan dirimu sholihah agar bisa menjadi amal nggak putus-putus buat bokapmu.

duka cita
*pict taken randomly by googling
 

Nyokap Udah Ngerestuin!


Dari kecil, saya ini paling nggak bisa ngelakuin sebuah hal, yang udah jelas-jelas diwanti-wanti sama nyokap untuk nggak ngelakuinnya. Contoh, saya nggak pernah berani nyuri-nyuri belajar sepeda semasa kecil, karena nyokap ngelarang anak perempuannya belajar sepeda. Sampai sekarang, saya nggak bisa ngendarain sepeda. Yah, emang nggak semua juga sih yang saya nggak langar. Manusiawi, saya juga ada lah nakal-nakalnya. Tapi emang, kalo nyokap nggak ngasih restu tuh, serasa tertatih-tatih saya ngejalaninnya. Berasa berattttt masyaAllah.

Seperti peristiwa dua tahun yang lalu, saat saya lulus kuliah, dan nyokap ngelarang saya ngelamar kerja di perusahaan2, saya tetep aja nggak berani nyuri-nyuri ngirim lamaran. Nggak berani! Pun, saat saya minta ijin ngurus beasiswa lanjut s2, nyokap masih cemberut dan bilang, "terserah" tapi saya tahu persis itu adalah mutlak TIDAK, saya pun ngurungin niat.

Yah, begitulah. Makanya, pas kapan itu nyokap mulai ngasih lampu hijau buat lanjut s2, saya nggak percaya. Dan saking senangnya, saya sampe bingung jadi ngurus apa nggak. Yah, emang nggak jadi ngurus sih, tp seenggaknya saya tahu nyokap udah mulai luluh.

Ini lagi, kapan malam itu saya bilang mau nyoba gabung jadi peneliti. Yah, belum tentu lolos seleksi sih, tapi mau nyoba2 aja lah dulu. Trus, nyokap ngijinin. Waaaahhhh, saya senang bukan main. Banget2 seneng. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Makanya besok saya rencana mau ngurus berkas segala macam. Pokoknya, ambil dulu kesempatan buat ngurus mumpung nyokap ngijinin. Sebelum beliau berubah pikiran. Adapun gimana takdir Allah, saya tetep berupaya untuk pasrah. Lolos ya Alhamdulillah Subhanallah. Nggak pun juga tetep MasyaAllah.

Yep, saya ngajak Rahma, Rina, dan beberapa temen saya untuk ikutan jadi peneliti juga. Pokoknya bismillah lah yaa. Ayo haps.. Kamu udah dapat restu... First step you taken, must be continued! Allah Maha Tahu :)

MAYA-MAIA (Si-Apa Seh)


Kurang lebih, udah sekitar dua tahunan ini saya mengenal blog heartchime milik seorang cewek seksi nan ayu seperti bidadari yang giginya putih berseri. Saya mengenalnya sebagai Annesya. Karena demi kesopanan semata, awal saya nyampah di kolom komentar, saya manggil dia mbak Nesya. Padahal, setelahnya saya tahu, dia lebih muda setahun dari saya. Tapi, apa seh arti tua atau muda, saya tetep aja manggil dia mbak Nesya. Kebiasaan seh yaaa... ahahahaha

Well, saya sangat terkesan dengan tulisannya yang sering melarutkan perasaanku dalam secangkir kopi yang saya minum tiap malam saat saya membaca blog heartchime. Makanya, sebelum kopi yang saya minum habis, saya langsung mem-follow blog heartchime itu. Sebelum perasaan saya yang terlarut itu benar2 lenyap menyatu dengan asam lambungku. Huu huu #ParagrafNggakMutu

Semenjak itu, saya jadi sering stalking-stalking mbak Nesya lewat tulisan2nya. Dan, langsung aja saya suka. Cara dia menulis tuh unik lucu minta dicumbu. Biasanya ada bagian yang seolah saya banget, berasa mewakili perasaan saya saat itu. Terlebih, dia anak HI juga. Jadi, ngerasa semakin dekat saja (padahal mah cuma perasaan dari saya aja -__-")

Well, meski mungkin perasaan ini bertepuk sebelah tangan, tapi saya girang bukan kepalang waktu dia ngabarin kalo anak keduanya udah lahiran. Yep, seperti yang saya paparkan, cara menulis mbak Nesya nih keren kece tiada tara. Dia udah sukses menerbitkan dua novel yang saya belum pernah baca sampe sekarang. Sejujurnya, saya pernah nyari2 di gramedia, penasaran dengan karyanya. Tapi, saya nggak nemu. Yah, tapi saya tetep aja seh jadi secret admire-nya mbak Nesya.

What now, mbak Nesya mau bagi-bagi anak keduanya. Judulnya: Maya Maia. Omaigooooooo.... Saya, excited banget2 dong. Secara, mbak Nesya tuh cara nulisnya keren kece tiada tara. Cara dia memaparkan kesedihannya aja bisa bikin saya terpingkal2 saking lucunya. Apatah lagi ketika dia berbicara tentang cinta. Saya langsung aja hanyut trus terbang ke kahyangan sana. Tapi, satu hal yang saya paling suka dari tulisan2 mbak Nesya: Illusion never changed into something real. Jadi, cewek baik hati disiksa diem aja trus-terusan pula, itu hanya ilusi belaka. Jadi, semua itu nggak mungkin ada di tulisannya mbak Nesya. Ditambah lagi, saat ini saya sedang cekak berat dan nggak punya bahan buat lucu-lucuan juga. Yah.....

Nah, karena semua alasan yang intinya adalah karena mbak Nesya itu sendiri lah, saya jadi pengen ngedapetin buku Maya-Maia plus tanda tangan dan tanda bibir juga tanda hatinya. Tanda kekayaannya sekaligus juga saya lebih suka. Ehehehehe

Mbak Nesya, berikan saya anakmuuuuu... sebagai tanda bahwa perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. #halah

NB: Saking maunya saya, saya sampe nge-capture foto anak keduanya mbak Nesya dari blog mbak Nesya itu sendiri. Hii hii

Straight Forward


Hm, perlu dibanggakan atau justru sebuah kekurangan yang mesti dibenahi, saya ini tipikal orang yang straight forward: one leads to the main road. I mean, ketika saya hendak keluar rumah untuk sebuah tujuan, gramedia misalnya, maka saya hanya akan mengambil rute: rumah-gramedia-pulang lagi ke rumah. Sangat jarang buat saya untuk mampir kemana kecuali memang saat itu menyusul notifikasi untuk mampir ke supermarket membeli minyak goreng, dsb.

Kalo dipikir-pikir sampai hari ini, saya tumbuh jadi orang yang nggak "gaul" masalah jalan, tempat, dan daerah-daerah sekitar. Karena saya bukan tipikal orang yang suka "blusukan". Saya juga bukan orang yang bisa keluar rumah tanpa tujuan. Jadi, ketika hendak keluar, saya harus punya tujuan kemana, membeli apa, atau melakukan apa. Saya nggak banget dengan model, "keluar aja lah dulu, kemananya ntar ngikutin kaki aja mau kemana." That's not my thing. Ahahahaha...

Makanya, saya mungkin terlihat sedikit membosankan. Atau mungkin terlihat sangat nggak bisa diandalkan. Saya paling nggak bisa kalo ditanya jalan. Saya paling nggak bisa kalo diminta untuk jadi guide sebuah tempat. Ahahaha, saya memang suka plesiran. Tapi, ya sekedar plesiran setelah itu pulang. Sangat membosankan ya saya ini? Ahahahaha

Tapi, saya bersyukur aja sih nggak terlalu "gaul" dan hanya tahu sedikit tempat saja. Seenggaknya saya bukan orang yang gampang buang-buang duit untuk hal-hal diluar rencana.

My Bad


Actually, I'm not as kind as you think. I'm not as nice as you see. Probably, knowing the real me, it will turn your world upside down. My bad, i'm not a good girl as it seems. Yeah, i must thank Allah for hiding my bad personalities. If He got it shown, i'm sure no one won't avoid me, ever.

Honestly, inspite of my bad personalities, i want to be a good girl as you see I am. My hope, when you last saw me, I was a nice figure _cheerful, strong, and friendly_, you'd love to keep it. Ahahaha, didn't you expect too much, haps?! You may think once awhile or more, for continuing relationship with me. It's your turn to look down on me. Or you'll throw me like a trash. Even if, i'm not that kind of people as you see. However, i admited having some bad personalities. But, bold it, i just admit, definitely no proud of having bad personalities in me.

Just for your information, i'm not as smart as you think i am. Perhaps, i'm just a lucky person whom Allah gave an ability to show up in front of audiences. Yet, i'm not as brave as you see. I'm just a little unwell for being uncontrolable sometimes. In order to reduce my silly-shy-side, i took a fake smiling-face and be _like_ a brave one. Oh yeah, one more, I'm not as friendly and cheerful as you know i am. I am actually some-what-like a black on shadow type. I mean, if you know me well, the friendly and cheerful marks on me will whusss, just fly away and gone with dust. I am, because of my parents education, seems like a good girl for my branding appearance.

Knowing it, you should get your shocking pink, shouldn't you?! Ehehehe, but i just want to tell you, i'm just a whole human. I was born with the two-part that makes me human being: good and bad. Therefor, don't admire me too much. Someday, when i make mistake, you'll hurt and feel sad too much, too. But, thank you, for listening to what i said, for considering what i suggested. And now, it's up to you, may judge me whenever you like. I told myself not to deeply affect by those simple words of yours. Because, whether you didn't do that, i always blame myself. Whether you just keep quiet, i'll argue with me(self).

The last, I let your love shown. Guard me. Wherever i'm lost, just pull me back. Whenever i choose a wrong direction, just remind me. Which is, just hold my hand and accompany me to walk in a right way.
Well then, shouldn't you just keep watching and resume liking me (as i am)?  ;)

You're My Soulmate (Rememorize!)


I thought, it was a really nice thing to talked with you last night. It seems like I found "us" back. What we get used to doing in every night. Remembering we're used to living in Alisha, I feel so uneasy. How the time goes by, it's like we're having too much fun. Whereas, the fact of life we had to face was about lack of money, hot and small room, dirty and stinking water, and unhealthy food so far it's edible. Ahahahaha. Don't you remember, sist? Yeah, of course I knew, you'll remember it all the time. Waaahhhh, Just remembering it, my eyes got hotter suddenly. It feels good when we could turn back the time, doesn't it?! But yeah, as you see, we're only human. Everything we want in life isn't easy to get.

Just want you to know, I do miss you. A lot.


"One day moment, when the time is over, I know, I'll be missing it...."

Demi Apa?


Saat pulang dari SMA 9 tadi, saya duduk diam di pinggir pintu angkot. Memperhatikan pemandangan luar. Sambil sesekali tersenyum ke arah penumpang yang nggak sengaja bertabrakan mata denganku. Nggak ada yang saya lakukan seperti saat-saat saya naik angkot biasanya. Saya nggak membaca, saya nggak twitter-an, saya nggak sms-an, pun nggak juga ngobrol dengan penumpang lain. Saya hanya duduk diam menghirup udara yang kotornya luar biasa.

Beberapa penumpang, naik. Tanpa perlu dikomando, saya menggeser dudukku berusaha memakan tempat seefisien mungkin. Lalu, celotehan perempuan di hadapanku terlalu mendadak membuyarkan aktivitas otakku yang kosong. Mataku menatap ke arah suara. Dua pelajar SMP yang dandanannya sering menghias layar kaca. Lengkap dengan BB kece dalam genggaman mereka.

Saya shock menganga mendengar perkataan yang keluar dari pelajar di hadapanku itu. Hanya seorang sebenarnya yang sejak awal berceloteh ini itu. Teman disebelahnya hanya sibuk mencat-mencet BB-nya. Demi apa bocah tengik di hadapanku itu mengatakan ibunya tol*l (means= stup*d, bahasa yg lebih sering dipakai org2 Lampung dibanding kata bod*h). Demi apa? Padahal, bocah tengik di hadapanku itu dibekali ibunya BB kece. Giginya dirapikan dengan kawat gigi motif bunga berwarna pink. Jam tangan trendi melingkar di pergelangan tanganya. Plus kuku-kuku cantik yang sepertinya masih basah keluaran salon. Itu semua uang dari mana kalo bukan dari ibunya? Demi apa dia berkata seperti itu tentang ibunya kepada temannya?

Benar-benar. Rasaya geram sekali saya mendengarnya. Dia baru SMP, masih nodong uang dari orangtuanya, sudah berani bicara begitu terkait ibunya. Bagaimana kalo dia sudah bisa kerja dan punya uang sendiri? Mau dimaki-maki ibunya? Gila. Bener-bener gila.

Saya membuang muka. Memperhatikan pemandangan luar untuk kesekian kalinya. Dalam hati saya miris sekali. Mudah-mudahan kelak ketika dewasa, bocah tengik itu bisa berbakti pada orang tuanya, dengan sebaik-baik bakti.

My Cousins

Dari atas ke bawah:

1. Naylil
2. Amir (Kakaknya Naylil)
3. Dondon (Nama sebenarnya Danda, tapi kami sudah terbiasa manggil dia Dondon krn gendutnya itu loh)
4. Irul
5. Fikri (Kakaknya Dondon)
6. Hisyam
7. Dimas (adiknya Hisyam)

Sebenarnya masih ada lagi beberapa sepupuku: Mila (Kakaknya Fikri), Naufal (adiknya Fikri), Adam (kakaknya Dondon), Lukman (Kakaknya Irul), Laisa (adiknya Dimas), Nora-Bahar-Hasan-Adinda-Aisyah (bersaudara berlima). Tapi mereka nggak ke-capture se eksklusif 7 orang diatas :)

Enjoy sepupu2ku :)

Have Fun!


Location : Pantai Klara, Lampung
Time : August '13
Model : Zulfa and Sofiya
Doc. by : Me

Love and Hate


Talkin' about myself is proving how egocentric person i was, isn't it?! But what i've done for a long time since i was a kid is talkin' to myself. When i was sad, when i was happy, when i was in a mood, or when i was in obsessive mode on, i was always talkin' to myself. I supported myself to reach my goal. I blamed myself when i made mistakes. I also cherished myself to gain the happiness. Well, a friend of me to talk with was me(self).

Ahaha, don't you dare call me crazy or out of my mind. My family said that to me. Even, I called myself in that way. Ahahahahaha. Well yeah, so the situation may have been. It' s never mind coverin' my little unwell with a lot of joke or even some discussion about anything. Fortunately, Allah gave me some like a bright brain :uhuk _i mean i'm not a genius or what, i just admit being normal, not stupid over all. That's it.

Well yeah, how unordinary me was not a big deal to discuss. I am accustomed to talkin' to myself in every moment I had. At least, talkin' about myself is just a way to love myself when a half of my heart hated me the most. As kak Farah said, "Dunno why, love and hate in this heart can't be arranged." I'm with you, sist! Ehehehe

No, i'm not feelin' sad nor upset. It's unconditional decision to rearrange love and hate in my heart, even my head. Still, what i've done is all my process to get some progress. Truly, all i want in my life is live happily ever after. Somehow, i knew what i should do. I just can't help being greedy. Poor me. But i would appreciate myself keeping the truth on top of my head. This Love and hate should be rearrange soon.

 "When you talked about perfection, don't you realized you're only human?! Everything happened to their life, will happen to yours." -a twit by Rizky Pebrian

The Best Creative Photoset of Sunset


Location : Parangkusumo, Jogja
Time : Syawal 1434 H
Model : The Family of Me
Doc. by : Me

Arus Balik


Harus merasakan kembali perjalanan selama 28 jam itu, sangat melelahkan untuk dipikirkan. Makanya, saya membuat beberapa daftar hal-hal menyenangkan untuk dipikirkan. Saya senang bisa kumpul2 keluarga. Menjabat tangan2 mereka, mencium pipi2 mereka, mendengar kembali bahasa Jawa yang mungkin sudah sedikit asing bagi lidahku. Saya sudah nggak terlatih lagi untuk lancar mengurai bahasa Jawa.

Saya menyiapkan daftar doa untuk dilantunkan sepanjang perjalanan. Sebenarnya doa yang sama yang saya siapkan saat bulan ramadhan sih. Ada 17 poin. Campuran antara harapan2 akhirat dan dunia. Simple sih buat saya yang terlalu banyak maunya ini. Ehehehehe

InsyaAllah hari ini kami bakal balik ke Lampung naik bus malam. Yang ngurusin tiket buat kami, aunty yang emang domisili disini. Keren loh, bis AC patas Purwodadi-Pulogadung bisa dapat 150rb doang. Sumber Laris. Tapi belum tauk juga sih gimana kondisi bisnya. Tapi krn murah meriah gitu harga tiketnya, maka kita beli kursi sampe berlebih-lebih. Biar bisa enak tidur-tidurannya sih. Bisa dimurahin gitu krn anak pemilik Sumber Laris itu temennya aunty. Ehehehehe :-)

Saya juga udah nyiapin brownis buat cemilan di bis. Pop mie seabrek buat jagaan kl nggak sempet makan di rumah makan. Plus, prepare air minum sebanyak-banyaknya. Saya paling ngerasa nggak aman kl belum nyiapin air minum lebih dari 5 botol besar.

Sebenernya kemaren itu saya mau niatin puasa hari ini. Karena toh bisnya berangkat malam. Tapi grandma udah ngekhawatirin saya mulu. Dr semalam nanya2in saya mulu puasa kagak, puasa kagak. Jadi ya udahlah saya hari ini nggak puasa dulu. InsyaAllah sampe Lampung baru puasa lagi.

Semalem sista' udah packing. We trust her all the the things about packing, because she's miss packing :-D

Yah, semoga perjalanan saya menyenangkan. Lancar, mudah, aman, dan selamat sampe rumah. Saya emang udah ngerencanain buat tidur sepanjang perjalanan malam. Oke, saya mau puas2in cium2 nenek saya dulu sebelum balik. She's gettin' old and old.

Lampung, wait for me yah :-)

Thank You


Sebenernya udah lama banget saya mau ngungkap semua ini. Tapi entah apa yang membuat semua kata-kata itu akhirnya cuma bisa mengendap dan tertahan. Sampai pada hari terakhir saya pergi meninggalkan Makassar, saya ingin agar nggak ada seorang pun yang mengantarku. Saya benci adegan airmata dan perpisahan yang mengharukan. Meski pada kenyataannya jauh di lubuk hati, saya tetap mengharap ada yang bersedih dengan kepergianku.

Begitu banyak hal yang patut disyukuri. Kisah bagaimana saya terdampar dan terombang-ambing di Makassar, sampai pada kisah betapa saya patut bersyukur bisa bertemu dan berkumpul dengan komunitas orang-orang baik hati yang sederhana dan senantiasa rendah hati. Mereka yang tetap bersabar dengan semua kelakuanku yang diluar batas kenormalan dan senantiasa mengingatkanku how to behave. Semua itu membuat saya yakin bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat. And how blessed I am. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb..

Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, sudah sepantasnya dia bersyukur (berterimakasih) kepada manusia. Therefore, all I wanna say is thank to them who helped me time to time. Who accompanied me along. Who always on my side when i needed a friend. Who pushed me to the top when i was down. Who gave me a hand and pulled me when i was lost. Who gave me so much love when everything i needed was someone i can run to. Who gave me a faith to holding the truth for all of my life.

~ Arfi, I can never forget the day when I was out of my mind, the day when you picked me. Jazakillahu khairan...

~ Rina, I can never forget the days you fed me. You're the one who helped me to against my fear. Jazakillahu khairan...

~ Kak Farah, I guess you knew how much 3 years i lived as your roommate. How much i was be your burden for a long time. And yet I knew i can never repay all the things you gave me. And the top of that, with all my many many many many faults, you love me still! Jazakillahu khairan my sista'...

~ Kak Lili, A years we lived together at BTP was unforgettable memory of me. Jazakillahu khairan...

~ Kak Ita, The nights we spent together at your room, the nights i just sat in front of the laptop with your im2 and harvesting data for my thesis. Jazakillahu khairan...

~ Kak Shofi, Kak Cholis, Kak Rahma, thank you for teaching me, carrying me, and guiding me to the right way in my first college time. Thank you for making me join in our college organization. Jazakunnallahu khairan...

~ Kak Niar, Ketika saya batal berangkat KKN karena kakiku mengalami kelumpuhan. And i had no where to go. Yet i had no whom to be with. You let me live and care me at BTP M125. Jazakillahu khairan...

~ Kak Cece, Kak Izzah, Kak Ayu, Wana, Eli, Mimi, Marni, Eka, Dewi Morning, terima kasih untuk hari-hari menyenangkan ketika kita sama-sama di MPM. Begadang-begadangnya kita, musyawarah-musyawarahnya kita, pusing dan clash-nya kita sama rekan sebelah, dan usaha kita untuk sama-sama istiqomah. Terima kasih untuk semua itu. Jazakunnallahu khairan...

~ Kak Tia, dan Cina, yang udah rela printer dan laptopnya dipinjam sebulan penuh buat ngerjain skripsiku. Terima kasih. Jazakumallahu khairan...

~ Eda, when I needed someone to accompany me to eat coto, I always called you! Dan makan coto bareng sama kamu tuh semenyenangkannya kita jalan pulang bareng menyusuri kampus dan workshop selepas Kadits. Thank you Eda. Jazakillahu khairan...

Masih banyak lagi orang-orang baik yang saya temui saat saya berada di ambang indefinite ketika saya kuliah di Makassar. Begitu banyak ucapan terima kasih yang belum tersampaikan. Dilla, Ainun, Dani, Risna, Rahma Teknik, Rahma Pertanian, Rysmah, Kak Nenz, Kak Ning, Sinar, Niar, Danti, Huda, Dini, Fitri, Qd, Tini, Lia, Kak Nufri, Kak Sri, Kak Maya, Kurni, Azzah, Winda, Asiah, Aya, Meytri, Peni, Pur, Padli, Daya, dan yang lainnya! Terima kasih untuk kalian semua...

Yang bisa saya ucap untuk kalian hanyalah jazakunnallahu khairan. Saya menyerahkan kepada Allah sebagai sebaik-baik pemberi balasan. Semoga Allah membalas kalian semua dengan yang balasan lebih baik.