What a Life!


Kemarin saya udah ngerampungin berkas yang perlu diunggah ke situs instanti peneliti yang hendak saya masuki. Saingannya, untuk 1 posisi yang saya ingini, sampai kemarin udah ada 14 orang aja. Belum beberapa hari kedepan. Mungkin, bisa 50an orang. Atau lebih. But, who really that care sih? Lolos apa enggak, itu udah bukan wewenang saya. Wewenang saya hanya mengingini dan mengusahakan. Itu aja.

Pas kemaren saya ngunggah, nyokap sempet ngeliat. Karena saya yang biasanya ngedekem di kamar, kemaren tumbenan ngotak ngatik lepi di ruang keluarga. Pas depan tv pulak. Trus, setengah becanda setengah serius, saya bilang sama nyokap, "Mom, ade udah selese ngurus berkas semuanya nih. Kalo ternyata ade nggak lolos, nggak apa-apa ya, Mom." Plus diiringi cengiran khas saya.

Nyokap ngejawab, "Kalau kamu nggak lolos ya alhamdulillah." It was said without an expression loh. Sepupu yang ngedenger langsung nyamber, "Wew, it means...." dia ngambangin kalimatnya, disusul ngakak pulak. Wajah saya saat itu langsung yang kaku bingung mau ngeluarin ekspresi kayak apa. Saya nyengir aneh. "Ya kalo kamu nggak keterima, alhamdulillah aja. Tapi kalo keterima ya syukur lebih alhamdulillah." Nyokap nerusin kalimat ngejawab kekakuan di wajah saya. Ehehehe, saya nyengir lagi. Tapi dengan ekspresi seneng banget banget.

Itu peristiwa kemaren. Yang sampe tadi pagi, masih kebawa aja perasaan senengnya itu. Dan, it is life. Senang sedih itu datangnya beriringan. Susul menyusul. Saling bertukar dan bergantian. Siang tadi, waktu saya lihat Rahma (yg pernah saya ulas di Double R) tampil ol di Gtalk, saya sapa aja. Dengan nggak ngerasa aneh, saya langsung ngebahas aja tentang kelanjutan rencana kami jadi peneliti itu. Saya emang udah pernah bilang kan, kalo saya ngajakin juga Rahma buat sama-sama jadi peneliti di tulisan saya sebelumnya. Tapi, ternyata dia malah ngasih kabar yang bikin saya "deg" seketika. She said that her father passed away this morning. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... Saya, bingung mau bilang apa. Honestly, perasaan senang yang sebelumnya masih bertengger di hati saya, entah sudah terbang menguap begitu saja  mendengar kabar itu. Saya ikut sedih. Makanya, yang bisa saya bilang cuma, "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Saya turut berduka cita ya, Rahma..." Dan beberapa kalimat yang semoga bisa menjadi sedikit penghibur buat dia.

What a life, yah. Baru kemarin saya merasakan senang yang meletup-letup. Hari ini saya denger kabar yang membuat hati saya turut bersedih. Sebelumnya, Rahma emang udah sering ngulas tentang keadaan bokapnya di blog Catatan SU miliknya. Meski nggak selalu update, saya sering menyempatkan diri mampir dan membaca-baca tulisannya. Pun hari sabtu lalu, saat saya menelpon Rahma, dia sempet ngabarin ke saya sih tentang rencana kepulangan dia ke kampung halaman karena kondisi bokapnya yang sedang sakit.

It's an awkward situation for me, actually. Saya emang sering mati gaya dan semacam kesulitan untuk berhadapan dengan orang yang sedang mengalami kesedihan. Saya yang sering banget sarkastik emang rada kesulitan untuk memperlihatkan rasa empati. Saya nggak terlatih untuk berkata-kata manis demi menghibur mereka. Jadi, saya selalu membawa diri dengan, bagaimana jika saya yang berada dalam posisi mereka, apa yang saya inginkan agar dilakukan orang lain terhadap saya. Maka saya lebih suka diam dan memberi mereka ruang untuk menghadapi rasa sedih mereka. Saya pribadi, nggak suka kalau saya sedang sedih, trus ada orang yang bersikap mengasihani saya dengan berlebihan. Membuat saya semakin cengeng dan rasanya kesedihan itu semakin menghanyutkan saya saja. Pun, jelas nggak suka kalau saya sedang sedih, orang di sekitar saya sok-sok membuat lelucon dan tertawa-tawa. Jadi, saya lebih suka jika orang lain diam saja. Maka saya memposisikan diri memperlihatkan rasa turut berbela sungkawa secukupnya saja. Dengan pemikiran, mungkin dia juga punya pemikiran yang sama dengan saya. But, really thank if there's someone would like to tell me how to give some respect properly.

Rahma, semoga bisa tetep kuat dan sabar ya... Segala yang datangnya dari Allah, akan kembali kepada Allah. Rasulullah pun menangis, jadi kamu sedih dan kamu nangis itu, sah-sah aja. Hanya mengingatkan untuk nggak meratapi dan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Jadikan dirimu sholihah agar bisa menjadi amal nggak putus-putus buat bokapmu.

duka cita
*pict taken randomly by googling
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarnya masuk kotak penampungan dulu ya...

Just make sure saya baca satu persatu :-)