Featuring November


Kapan Kemarin, aku bercerita pada ibuku tentangmu. Entahlah, aku pun tak tahu kenapa aku melakukan itu. Mungkin, aku sedikit rindu padamu. Dan tentu saja, membicarakan dirimu adalah hal menyedihkan yang selalu memaksa airmataku untuk jatuh.

Ibuku pernah bertemu denganmu. Meski cuma sekali. Tapi, bisa saja ia punya kesan tersendiri tentangmu. Beliau pun berteman denganmu di dunia maya. Maka, sepertinya ibuku tak butuh ceritaku. Tapi, aku tak bisa menahan diri untuk tidak membuka kapsul waktu yang sudah lama kukubur saat ibuku menyebut namamu dalam pembicaraan santai kami siang itu. Kunci kapsul waktu yang kukira sudah hilang, kembali kau beri padaku saat kau tanya kabarku melalui WA seminggu yang lalu.

Kak, sedari awal aku mengenalmu, aku tahu ada hal menyedihkan yang kau sembunyikan dariku. Dan dari orang lain. Dari keceriaan yang kau tampakkan di hadapan manusia hanya untuk menyembunyikan gloomy-nya hidupmu.Dari lebarnya senyumanmu hanya untuk menyembunyikan kesedihan hatimu. Dari suara renyah tawamu hanya untuk menahan jatuhnya airmatamu. Dari kata-kata penyemangat yang kau ucapkan lebih untuk menyemangati dirimu sendiri. Kak, apakah kau pernah mendengar sebuah perkataan "Jiwa (spirit) itu akan mengenali yang sejenis / yang memiliki kesamaan dengannya"?

Kak, kau adalah orang yang baik. Maka tetaplah seperti itu. Kau yang tak pernah serakah dengan kebahagiaan yang dimiliki oleh orang lain. Kau yang tak pernah mengeluh atau berharap menukar takdirmu yang buruk. Kau yang bahkan masih tak murka meski kecewa dengan orang disekitarmu yang memanfaatkan kebaikanmu. Kau, yang bahkan masih merasa kasihan pada orang lain di sekitarmu, padahal mereka tak tahu bagaimana menyedihkannya hidupmu.

Kak, aku sungguh berterima kasih atas semua yang pernah kau lakukan untukku. untuk semua kebaikan-kebaikanmu. Meski hidupmu begitu sulit, tapi kau tak pernah berhenti membantuku.

Kak, aku sungguh berterima kasih padamu. Sejak mengenalmu, hari-hari sulit tak banyak menderaku. Meski bebanmu tak kalah berat,  kau tetap bersedia mendengar keluh kesahku.

Kak, aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu. Aku mendoakan kebahagiaan untukmu. Aku berharap agar kau bahagia. Tidak, tidak. Aku sungguh ingin kau bahagia. Kau harus bahagia, Kak!

Tapi Kak, aku ingin kau mengerti bahwa berada di dekatmu membuat dadaku sesak. Berada di dekatmu membuatku semakin marah. Dengan berada di dekatmu, aku merasa diriku begitu menyedihkan.

Kak, saat aku menatap senyummu, saat aku mengingatmu, yang terbayang adalah beratnya beban hidupmu. Aku tak mau menatapmu dengan kasihan. Karena kutahu, kau tak suka dikasihani. Kau berusaha menyembunyikan kesedihanmu agar tak dikasihani orang lain. Tapi kak, itu justru membuatku semakin susah.

Kak, maaf. Ini semua salahku. Aku yang aneh. Aku yang selalu memiliki kesimpulan sendiri. Tapi Kak, inilah alasan kenapa pada akhirnya aku melepasmu.

Kak, ingat. Kau harus bahagia!






______________________________________________

Jangan salah sangka. Pada kenyataannya, hidup ini bukan hanya tentang asmara.

Don't Delude Yourself


You throw a tantrum when things don't go your way, just like kiddos.
You're pulling and pushing anyone around you, as if you're the boss.
So why don't you start asking yourself?
Something about what's been changed even after you're twelve?

So may I give you an advice?
Don't delude yourself!