Catatan Ramadhan (Last Part)

Sepertinya ini adalah catatan terakhir yang bisa saya post di bulan Ramadhan ini. Terlalu banyak pelajaran yang saya dapat sebenarnya. Bukan karena saya pelit untuk membaginya, hanya saja, terkadang kita memang tidak bisa membaginya, bukan karena tak ingin, tapi karena tak bisa.

Hai ini saya baru saja touch down di Grandma's village. Ada perasaan lain yang dirasakan orang-orang yang mudik. Dan sensasi ini tak pernah dirasakan orang yang tak punya kampung. Ada perasaan senang, bahagia, dan kenangan-kenangan yang terlalu lama disimpan muncul kembali.

Catatan Ramadhan (Bag. 4)


Sudah sepantasnya, Ramadhan ini kita sikapi dengan bijak. Sesuai dengan sebab dan hikmah diwajibkannya kita melaksanakn ibadah puasa di bulan ini. Bijak, untuk tidak berlebih-lebihan ketika saatnya berbuka puasa. Bijak, untuk tidak memperbanyak tidur kita. Bijak, untuk tak serakah ketika sahur. Dan bijak, untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Serta bijak, memanfaatkan momen dimana ada hari yang lebih baik dari seribu bulan di bulan mulia ini. Semoga, kita keluar dari bulan ini dengan predikat "TAKWA". Semoga. Aamiin.

Saya benar2 Merindukan ini

masjid kampus Unhas

Tamu ini Geli-Geli Menjengkelkan


Sudah separuh lebih Ramadhan terlewati. Dan suasana penuh berkah ini masih menyelimuti. Masjid dekat rumah saya, masih ramai tadarusan. Baik setelah shalat tarawih sampai jam setengah sebelas malam, atau pada saat sahur hingga subuh datang. And I love it, alhamdulillah...

Rumah saya juga selalu dipenuhi anak-anak TPQ tiap sorenya. Bejubel mereka memenuhi bagian depan rumah saya. Terbagi dalam dua kelompok: anak-anak yang sudah membaca alqur’an dan anak-anak yang masih belajar membaca buku Iqro.

Suasana Ramadhan kali ini juga lebih berasa lagi karena di rumah, dua keponakanku yang so lovely itu ikut berpuasa. Zulfa (5 tahun) sudah mulai berpuasa one day full. Yah, dengan catatan jatah main (terutama lari-larian) dikurangi dan jam tidurnya diperpanjang. Sementara si kecil Sofiya (3 tahun) sudah belajar berpuasa setengah hari. Dan subhanallah, mereka berdua tak mencuri-curi makan dan minum di belakang kami. Tak berani...

Lucunya, kami para elder, sering menggoda dua bocah lucu itu. Pernah, di suatu siang..
Saya                      : “Mbak Zulfa, mau makan gak? Nih di meja ada makanan.”
Zulfa                     : “ Gak lah. Kan puasa..”

Pernah juga ada kejadian seperti ini,
Sofiya                   : “Umi, kok adzannya lama sih?” (mulai merengek)
Mbak saya             : “Sabar ya, sayang. Adzannya bentar lagi.”
Sofiya                   : “Tapinya kok lama..” (sudah mulai rewel)
Aunty                    : “De, Orang yang gak puasa kenapa?”
Sofiya                   : “Dosa..”
Aunty                    : “Ade mau kalo dosa?”
Sofiya                   : (geleng-geleng kepala, kemudian berhenti rewel)

It’s really exciting bisa melewati Ramadhan di rumah begini. Tapi, sudah 8 hari ini saya kedatangan tamu. My hope besok ia bisa segera pergi. Soalnya, tamu ini geli-geli menjengkelkan. Karena dia, saya gak bisa beribadah dengan maksimal. Karena dia juga, saya gak bisa merasakan nikmatnya puasa meski tetap saja kesulitan makan dan minum. Karena dia juga, saya langsung mengeluarkan hitungan matematis untuk Syawal nanti. Dan karena dia-lah Ramadhan saya jadi “berlubang”.

Yah, tamu ini geli-geli menjengkelkan!

Bdl, 18 Ramadhan 1433 H

Asing


pict owner

Angin berteman sepi meyambut
Uluran tangan pengelana
Dedaunan jatuh berguguran
Tak ada gurun pasir
Hanya bangunan-bangunan batu di sekitar

Bising
Ramai celotehan manusia pemilik peradaban
Penuh cela dan kritik menyakitkan
Pada pengelana yang datang dengan segenggam keyakinan

Berbekal keyakinan akan sebuah kebenaran
Pengelana berjalan sendiri
Hanya seorang diri
Dalam keterasingan yang panjang

Keniscayaan

Keniscayaan

ada segaris luka dalam redup sinar mata
bukan benci atau sakit hati
hanya senandung penyesalan atas tingkah dalam kebodohan
sederet bayang masa lalu kembali datang
meminta jawab atas tanya yang tak terselesaikan

mungkinkah segalanya akan kembali?
atau waktu-waktu yang terlewati masih bisa berulang di hari ini?

tak ada kafarat kudapat sekarang memang
tapi inilah satu bentuk kepedihan
karena pembalasan itu niscaya akan datang
pada hari yang telah ditentukan

Wisuda


pict owner

Kutatap wajah kalian satu persatu
Lekat
Seakan tak ingin berpaling barang sejenak
Kupandangi guratan-guratan sendu
Di balik pancaran kegembiraan batin kalian

Aula megah itu,
Seragam hitam yang dikenakan,
Senyum bangga para orang tua,
Suasana penuh sesak,
Serta teriak ricuh
Saat nama-nama dikumandangkan

Para pejuang tangguhku,
Akankah toga memisahkan kita?

Catatan Ramadhan (Bag. 3)


It's day 4th saya "cuti" puasa. Yah, beginilah nasib seorang perempuan. Sudah digariskan merasakan hal seperti ini tiap bulannya. Bersyukur, karena ini membuktikan saya seorang perempuan sejati :)) Ketika awal puasa, saya ber-azzam untuk fokus beribadah. Tak mau terganggu dengan dunia internet. baik twitter, fb, bahkan blog saya sengaja niatkan untuk diabaikan. Dan, memang ketika awal puasa, saya benar-benar menjalankan azzam saya tersebut. Laptop, dan modem nganggur, saya gak tergiur untuk menyentuhnya. BB kakak ipar tergeletak begitu saja di meja, saya tak berusaha memanfaatkannya sekedar untuk ngecek mention di twitter atau notifikasi fb. Bahkan, saya juga tak tergoda dengan game seru di android mbak dan tanteku. Itu terus berlangsung samapai saya harus membatalkan puasa saya di tengah hari yang garang. Entah bagaimana bisa, padahal setansetan sudah dibelenggu, saya akhirnya tergoda. Jadi mentang-mentang gak puasa, saya gak shalat, gak tadarus, dan yah begini: Mulai nongkrong depan lepi, ngetik asyik apa-apa yang saya dapati sebagai pelajaran-pelajaran di tiap Ramadhan saya. Tapi, saya tetap berusaha tak berlamalama mantengin twitter atau fb. Karena bagaimanapun, ini Ramadhan, kawan. Saya tak mau menyianyiakannya begitu saja. SEkarang waktunya kita mengumpulkan pahala sebanyakbanyaknya :)

Catatan Ramadhan (Bag. 2)


Malam ini saya melankolis, banget. Entahlah, tetiba saja saya mudah tersentuh hatinya. Saya tak bisa membendung airmata saya saat sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kisah seorang kakek berkewarganegaraan Cina, pengayuh becak yang miskin dan papa tapi berhati mulia. 

Mirisnya, ia hanyalah tukang becak yang penghasilannya tak seberapa. Tapi dengan hatinya yang mulia ia menyumbangkan SELURUH penghasilannya dari mengayuh becak itu ke panti asuhan. Sementara untuk makan, ia memilih MEMULUNG. Diceritakan, hingga pada usiake 91 tahun ia datang ke panti asuhan tempat ia selalu menyumbangkan penghasilannya, ia pun meminta maaf karena tak bisa lagi mengayuh becak karena sering sakit-sakitan. Dan di hari itu, ia menyumbangkan uang penghasilannya yang terakhir. 

Saya sangat terharu. Kakek itu seorang Cina yang bukan muslim. Tapi dalam keadaannya yang miskin itu, ia membawa semangat berbagi yang begitu besar. Semangat berbuat untuk sesama. Saya benar-benar tak bisa menghentikan airmata saya.

Saya malu, saya tersedu-sedu. Saya, seorang muslim, masih muda, dan bukan termasuk orang miskin. Tapi semangat saya untuk membantu sesama belum sebesar kakek itu. Apalagi ini bulan Ramadhan. Saya malu...

Lantas saya berdoa pada Allah, saya ingin menjadi manusia yang berguna, dan bisa menolong sesama. Hingga akhir hayat saya.

Para malaikat, “aamiin”-kan doa saya. Ya Allah, kabulkanlah Ya Allah.
Bdl, 27 Juli 2012