The Last Day (Seharusnya)

Ini tanggal 30. Hari terakhir di bulan April ini. Yang, pada sebulan lalu saya anggap sebagai hari terakhir pengurusan beasiswa. Saya, sedang semangat untuk merampungkan semua syarat dan prosedural seleksi beasiswa. Yang kemarin ketika saya hendak menyelesaikan, justru listrik padam, lalu pagi tadi saat saya berniat menyelesaikan, langit justru menangis selama beberapa jam. Sampai ketika siang tadi, saya harus menunggu anak kenalan nyokap yang sedang menyelesaikan pekerjaannya untuk benar-benar dibantu menyelesaikan semuanya.

Lalu, ketika semua hampir terselesaikan... hanya butuh satu aksi mengunduh berkas-berkas, saya malah dikejutkan dengan sebuah pengumuman:

Untuk meningkatkan pelayanan beasiswa maka sistem aplikasi seleksi beasiswa kami tutup untuk sementara waktu hingga paling lambat pada hari Selasa, 30 April 2013.

Periode pendaftaran seleksi beasiswa yang sebelumnya dibatasi hingga 30 April 2013 telah diubah menjadi akan dibuka sepanjang tahun dengan dua kali periode penilaian dalam setahun.

Atas pengertiannya kami ucapkan terima kasih. 

Saya tercengang.... setelah semua usaha? ┼┼αα┼┼αα.. ┼┼αα┼┼αα..

Ya Sudahlah. Saya hanya perlu mengingat keluargaku bilang apa, "Kalo rizkimu pasti dapet lah. kalo nggak mah ya udah sante aja." #okesip

Lalu kedepannya bagaimana? Masih mau saya urus? Entahlah, kita lihat saja. Kalo hati saya berkata lanjut, mari lanjutkan. Kalau tidak, itu mungkin karena seseorang sudah bisa mengikuti navigasinya dengan sempurna #eh?! Ahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

Serba Tetiba


Siang tadi, seorang teman lama mengirim sebuah pesan singkat. Sangat singkat. Menanyakan apakah saya telah menyelesaikan semua prosedural pendaftaran beasiswa. Dan saya sempat jengkel karena setelah membalas, dia nggak membalas lagi. Padahal, saya hanya menanyakan sesuatu yang sederhana.

Sampai jam 10 tadi, saya masih nggak punya ide buat merampungkan 3 essay syarat beasiswa. Jujur saja, karena skor TOEFL saya kurang, saya jadi enggan melanjutkan. Meski nyokap sudah memberi ijin untuk terus jalan. Yah, saya emang sering gitu. Tetiba Up, sedetik kemudian tetiba saya down lagi. Hihi

Tapi sekitar sejam setelah pesan singkat itu, saya seperti kebanjiran ide. Semangat saya muncul lagi. Nggak menggebu sih, tapi cukup untuk membuat saya mampu merampungkan 3 essay dan beberapa berkas pendukung selama empat setengah jam. Alhamdulillah. Saya berterima kasih pada pengirim pesan singkat tadi. Makasih...

Setelah sempat mengajar TPQ sebentar, jam 5 saya diantar nyokap menuju tempat kenalan nyokap untuk menyelesaikan format berkas yang akan diunduh. Beberapa berkas mesti di-scan dan beberapa perlu dirubah dari Word ke dalam bentuk PDF. Tapi, qadarullah.... Belum sempat satupun ter-scan, listrik padam. Ahahahaha. Ujian kesabaran dan keteguhan mungkin :-)

Tapi, beberapa berkas sudah terubah ke dalam bentuk PDF. Setidaknya, ada beberapa hal yang telah terselesaikan. Saya juga tadi sempat mendapat beberapa ilmu terkait format penulisan. Yah, semoga besok bisa benar-benar rampung karena besok adalah hari terakhir pengurusan. Semoga...

Saya juga baru saja dapat rizki tambahan. Jual seekor ayam saya ke kakak ipar. Ahahaha. Lumayan, buat bayar biaya scan, dsb besok. Xixixixi

Oke, bismillah. Kalo emang magister UI adalah rizki saya, mudah-mudahan saya dapat beasiswa itu meski essay saya sangat seadanya dan skor TOEFL saya nggak mencukupi. Ehehehe :-D
Tapi kalo bukan pun, saya yakin Allah sedang menyimpan yang terbaik buat saya. Saya yakin!

Tetap semangat! :-)

TOEFL, S2, dan Jodoh #2

(sambungan)

Saya meninggalkan Pak Gandhi yang sudah kembali sibuk di mejanya. Saya menutup pintu ruangan. Menatap kembali kertas di tangan kiri, lalu berdecak. Kurang 7 angka. Ck.

493. Angka itu menari-nari di kepala saya. Dari awal memang saya telah menakar kalau skor TOEFL saya nggak akan memenuhi target. Mengingat minimnya persiapan saya. Jum'at mendaftar, senin test-nya. Sabtu dan ahad di rumah sibuk pengajian dua hari full. Mana sempet belajar ini itu. Buka soal TOEFL mana ada waktu. Selama ini saya terlalu malas menatap ratusan soal yang nggak masuk akal itu. Tapi, mengetahui kurang 7 angka saja itu, rasanya benar-benar merasa diri ini bodoh sekali. Saya merutuki diri sendiri.

Dalam perjalanan pulang, saya mengirim sebuah sms ke seorang teman. Yah, itung-itung curhat colongan.

Rys, td sy br ngambil skor toefl resmiku. Skorku 493. Kurang 7 dari 500. Gak memenuhi target. Terbuanglah uang ratusan ribuku. Huhu TT
anw, sy kget tnyata report skor toefl tuh cm kertas kecil seperempatnya krts HVS. Smpe2 ptugasnya td blg, 'psti ngiranya bkal dpt sertifikat bgus ya?' Saya nyengir. Ahahaha

Nggak sampe 5 menit, notifikasi balasan berbunyi. Dari rysmah.

Wahaha.. Emang ukurannya cuman segitu haps :D pasti krn image sertifikat, slalu dpkirnya seukuran krtas HVS :D hoho.. Btw, bgus kok skormu. Sy aja kmaren gak smpe sgitu :'( #hiks.. Kl cuman pengen daftar apa2 di indo mah nilai sgitu ckup kok. Ya, kcuali km pengen kmana2... :D hooho..

Saya senyum-senyum sendiri membaca balasan sms dari Rysmah. Nggak kerasa, yang awalnya mau curcol #eh malah jadi curhat berkepanjangan. Menceritakan kebodohanku dengan mengabaikan soal Reading hanya karena saya malas lihat paragraf2 yang panjang bikin sakit mata. Lalu membandingkan harga ratusan ribu untuk sebuah report kecil menjengkelkan itu _dan saya agak bersyukur karena ternyata yg saya bayar lebih murah dibanding Rysmah. Dan menjelaskan mengapa saya memilih mendaftar di UI, bukan Harvard atau Oxford. Oke, yang terakhir ini saya agak melebih-lebihkan sedikit. Saya nggak pernah menyinggung2 Harvard atau Oxford pada Rysmah karena saya memang nggak berniat masuk kesana. Tapi, saya memang menjelaskan padanya alasan memilih UI.

Jakarta - Lampung itu sangat dekat. Setidaknya semua orang Lampung tahu, dan menganggap begitu. Karena pertimbangan itulah saya memilih UI saja. Bukan UGM atau pun Aussy. Karena bokap selalu merajai Jakarta, saya mungkin bisa pulang bareng beliau sepekan atau minimal dua pekan sekali. Dengan itu saya berharap nyokap luluh dan mengijinkan saya kuliah lagi. Tapi, ternyata skor TOEFL saya nggak memenuhi target.

Sampai di rumah, saya langsung mengadu pada nyokap.
"Mom, skor TOEFL ade nggak nyampe 500. Cuma 493 doang. Ade nggak bisa lanjut daftar beasiswa."

"Ya udah, lampirin aja. Keterima syukur, kalo nggak jadi s2 ya insyaAllah kamu nikah aja." Masih sambil memotong2 sayuran nyokap menanggapi aduan saya tadi.

Seketika saya melongo. Nikah? Nyokap ngebahas tentang nikah lagi? Saya cuma mengaminkan dalam hati. Nggak berani melontarkannya kuat-kuat. Khawatir nyokap salah tanggap, lalu antusiasmenya buat ngejodoh-jodohin saya dengan anak dari teman dan kenalannya membara lagi. Cukup sudah.

Mataku melirik lagi report skor TOEFL di tangan kiriku. Nggak tahan, saya melanjutkan, "Ish, kertas sekecil ini harganya 350 ribu, mom. Menjengkelkan banget, deh." Sebuah usaha nggak mutu buat mengalihkan pembicaraan.

TOEFL, S2, dan Jodoh #1


"Mom, ade mau keluar bentar. Ke Unila." Sambil membenahi jilbab di depan cermin, saya melirik ke arah nyokap.

"Mom belum siap-siap. Kenapa ngedadak banget?" Nyokap yang sedang asyik menata puzzle versi jigzaw menatap ke arahku kaget.

"Ade berangkat sendiri aja. Nggak usah dianter." Saya mencium tangan nyokap, lalu sebelah pipinya, dan berpamitan. "Ade berangkat, mom. Assalamu'alaikum."

Saya nggak bilang, ke Unila untuk urusan apa. Nyokap juga nggak sebegitu kepo dengan segala urusan saya. Yang penting dia tau saya pergi kemana, dan dia percaya saya nggak akan melakukan tindakan yang melanggar hukum. Itu saja.

Sampai di Unila, saya langsung menuju gedung dua lantai yang catnya sudah agak pudar, tepat di sebelah pohon beringin raksasa. Pusat Bahasa Unila. Seolah kaki saya telah terprogram dengan baik, langkah saya terfokus pada kursi paling ujung di ruangan paling ujung di lantai dua. Menemui Pak Gandhi.

"Pak, mau ngambil skor TOEFL a.n Hapsari."

Tak lama bagi Pak Gandhi untuk mencari diantara sekian tumpukan kertas report TOEFL dan menyodorkan satu ke arah saya. Dan meminta saya mem-paraf list yang memuat nama saya _sebagai bukti saya telah mengambil report skor toefl. Setelah membubuhkan paraf, saya menilik kertas yang disodorkan Pak Gandhi tadi, oke saya mendapati nama saya tertera di sebelah kiri atas, lalu saya menunggu. Namun, tak ada yang dilakukan Pak Gandhi setelahnya.

Saya terpana. Menatap ke kertas _yang cuma seperempat dari kertas HVS berisi beberapa tinta hitam mencakup nama, negara, dan skor toefl_ lalu menatap lurus ke mata Pak Gandhi. Mencari jawaban atas tanya yang nggak bisa terucapkan.

"Kenapa? Baru pertama kali ikut TOEFL, ya?"
Pak Gandhi akhirnya memutus sekian detik yang mengambang diantara kami tadi.

"Iya." Saya mengangguk-angguk. Masih menyimpan tanya.

"Pasti kamu kira kamu bakal dapet sertifikat bagus, kan?!"

Pak Gandhi melempar senyum yang entahlah, apakah itu senyum mengejek atau senyum geli melihat ada lagi satu orang lugu yang dalam diam mempertanyakan kesesuaian nilai ratusan ribu dengan kertas yang, bahkan satu HVS pun masih dibagi empat!

Saya cuma bisa nyengir sebagai jawaban pertanyaan Pak Gandhi dan pertanyaan yang saya simpan untuk diriku sendiri.

Gila aja. Uang jatah menabungku sebulan cuma dihargai kertas kecil begini? tak bisa kucegah, saya memprotes dalam hati.

(to be continued)

pengaruh ketakutan dan keragu-raguan diri Hapsari dalam pengambilan keputusan


Ini tanggal 25. Saya harusnya mengambil hasil dari test nggak masuk akal yang saya jalani senin tgl 15 lalu. Tapi saya enggan. Malas lihat hasilnya. Saya memang memohon sama Allah untuk diberi hasil sesuai yg saya inginkan. Tapi, menakar apa yg saya lakukan di tanggal 15 kemarin, kemungkinan besar hasilnya nggak seperti yg saya harapkan. Jadi sampai jam dua belas siang ini, saya masih dirumah. Malas-malasan....

Menjadi independen itu ternyata nggak menyenangkan. Jiwa pemberontak saya seolah tak menemukan lagi tempatnya untuk tampil di dunia. Saya seperti melihat sebuah pintu di tengah kegelapan. Saya bisa melihatnya, tapi nggak tahu arah untuk bisa sampai ke pintu itu. Pada akhirnya saya tersesat di tengah kegelapan.

Saya ini mungkin emang sedikit nggak normal. Tapi, bertahun-tahun sudah saya menjalani hidup dengan ketidaknormalan saya. Sehingga kalau saya diminta untuk mulai menjalani kehidupan yang normal, saya seperti kehilangan sebelah sayap saya. Timpang. Malah nggak bisa jalan...

Semalam, dan beberapa malam di waktu yang lalu, saya pernah coba-coba menganalisa "pengaruh ketakutan dan keragu-raguan diri dalam pengambilan keputusan bagi seorang Hapsari". Dengan analisa yang cukup dangkal, yang whether it's right or I think is most of wrong, saya mendapatkan beberapa pengaruh yang cukup signifikan. (berdasarkan beberapa fakta yang terjadi di masa lampau).

Sebenarnya, cukup sulit buat saya untuk mengetahui penyebab keragu-raguan itu muncul. Tetiba, setelah saya menggebu-gebu ingin sesuatu, tetiba saya meragu. Tetiba, setelah saya memutuskan untuk berhenti dulu, tetiba saya bersemangat untuk memulainya kembali. Semuanya serba tetiba. Absurd.

Tapi, satu hal yang saya coba mengerti. Saya nggak pernah bersungguh2 untuk satu hal dalam hidup untuk urusan dunia. Karena apa? Karena saya nggak ingin menyesal di masa mendatang. Awalnya saya pikir ini sebuah penyakit paranoid yg saya derita. Tapi ternyata bukan. Ia hanya sebuah bentuk penjagaan alamiah agar saya nggak melenceng dan menjadi sosok yang terjerembab ke dasar jurang bernama ketersesatan.

Begitu besar peranan hati dalam setiap keputusan yang saya ambil. Saya bukan orang yang melogikakan segala sesuatu. Saya berjalan berdasarkan instruksi hati, yang diterjemahkan oleh logika dalam bentuk alasan2 yang seringnya sangat tidak rasional. Olehnya, untuk sebuah keputusan yang akan saya ambil, saya selalu berkompromi dgn hati. Apakah ini benar? apakah ini salah? apakah itu baik untuk diteruskan ataukah itu perlu dikesampingkan dulu?

Jadi, manakala ketakutan dan keragu-raguan tetiba menergap, langkah saya akan sangat sulit untuk diteruskan. Meski beribu orang mendorong saya untuk terus berjalan, rasanya kaki ini nggak mampu digerakkan. Ketakutan dan keragu-raguan itu memenuhi hati yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam memutuskan sebuah perkara. Terlepas darimana asalnya keraguan dan segala ketakutan itu muncul, tapi sebuah hal yang pasti saya yakini, "jika keragu-raguan itu menyergap, mintalah kekuatan pada Allah. Jika hal itu baik, minta Ia menghilangkan keragu-raguan itu dan memperkuat keyakinanmu. Karena bisa jadi keragu-raguan itu datangnya dari syaitan. Dan jika keraguan itu tetap menyertaimu, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Lalu tinggalkan hal yang membuatmu ragu itu."

Untuk urusan2 dunia, saya menunggu hati saya yakin baru saya mengambilnya. Buat saya, tak mengambil hal yang orang lihat sebagai sebuah berkah karena saya meragu, bukanlah sebuah malapetaka. Dari pengalaman yang sudah2, ketika saya meragu, lebih baik buat saya untuk nggak meneruskannya. Karena insyaAllah, Allah menyiapkan hal lain yang terbaik untuk urusan akhirat saya. Nggak sukses di hadapan manusia, bukan akhir dari dunia kok. *pukpuk

Alhamdulillah (y)


Alhamdulillah, ternyata saya nggak harus sakit berlama-lama. Setelah istirahat 3 hari full di rumah, imunitas saya kembali naik. Alhamdulillah (y)

Saya tipe orang yang anti dengan rumah sakit, puskesmas, atau klinik "org2 sakit" lainnya. Jadi sebisa mungkin saya berupaya untuk nggak mengunjunginya. Alhamdulillah seumur hidup saya nggak pernah ngerasain di opname (semoga kedepannya jg tidak! aamiin). I prefer sleeping at home :-)

Makasih buat semuanya yang udah ngedoain kesembuhan saya. Makasih, makasih. Allah mengabulkannya cepat :-)

Besok mungkin saya akan jalan2 lagi. Saya masih punya jatah libur 5 hari. Kerjaan masih menunggu sampai senin depan.

Lets rock, haps... \(^o^)/

Catatan Orang Sakit


Padahal, orang sakit itu seneng banget kalo diajak ngobrol. Berbaring sepanjang hari bener2 membosankan. Ngubek2 TL juga nggak bikin semangat max. Baca buku bikin kepala tambah cenut2an. Yah, sabar yah haps...

:: menimbang untuk tidur lagi saja.

'Yauda sih'


When you need someone to talk with and you hardly find through the one, yauda sih....

:: TM pas lagi banyak2nya dan org2 pas lagi pada sibuk2nya.

Saya Sakit


Saya sakit. Lagi. Nge-drop kali yah... Beberapa hari kemarin saya sibuk. Tenaga dan pikiran terkuras. Tiga hari berturut2 saya tidur jam 3, bangun jam 5. Sesiangan saya nggak putus2 kerja. Nggak ada istirahatnya. Senin, otak saya diaduk2. Karena alasan tertentu saya harus mengikuti sebuah test nggak masuk akal yang pernah ada. Dan setelahnya, saya collapse... 2 hari saya nggak bisa bangun dari tempat tidur. Makan saya nggak teratur. Yang anehnya, perut saya nggak bereaksi seperti biasanya. Ternyata, semua terakumulasi dengan badan sakit semua. Weekend kali ini saya cuma bisa berbaring di ranjang saja. Yah, salah saya sendiri sih, sebenarnya.

Doakan saja saya kembali normal yah. Saya tetep percaya kalo saya ini kuat seperti beruang. Jadi, kali ini saya akan istirahat beberapa waktu. Mudah2an bisa kembali sehat dan bisa cuap2 secepatnya :-D

What a Small World!

BW (blog walking) membuat saya berpikir, bahwa dunia ini ternyata lumayan sempit. Beberapa kali jalan, belok2 sedikit, saya menemukan orang2 yang related. What a small world! Padahal dunia maya itu unlimited. Here's no border and line, i thought. Makanya saya pernah berharap bertemu dgn orang2 baru yg nggak pernah saya kenal sebelumnya. Berharap saya nggak ketemu dgn orang2 yg itu2 lagi. Tapi, yah... Here's the world yang suka nggak suka, saya masuki juga.

Enjoy the world yah myself. Here's what a small world!

Mew Mew


Saya nggak sempet nge-update blog saya ini. Selain karena emang kuota abis dan money-nya juga kepake buat urusan yang lain, maka yah saya terima aja nggak nyentuh2. Kali ini saya sedang mengurus sesuatu dengan dadakan2. Mencoba mengais rezeki yang semoga adalah jatah saya dan memang halal untuk saya. Semoga, aamiin yaa Rabb...

Saya dapat ujian berupa keyakinan yang berubah jadi ragu, lalu menjelma dalam yakin sebagai bentuk sebuah upaya seorang hamba. Diuji untuk bisa pasrah yang masih sering ternoda dengan pertanyaan2 seputar masa depan. Masih coba berkompromi dengan diri sendiri agar tetap bisa jalan meski banyak rintangan. Mencoba menyemangati diri sendiri kala nggak ada lagi bahu yang bisa dipinjam untuk dijadikan tempat bersandar. Giving a faith to myself, I make a progress. Seenggaknya, itulah yang saya percayai.

Bismillah. Kalo emang rizkimu, pasti kamu dapat. Kalo bukan, yakin Allah bakal kasih jalan lain buat rizkimu sampai kepadamu. Kuncinya adalah yakin pada-Nya.

Flip Words


Awalnya tak sengaja. Lama-lama jadi biasa.
Mulanya biasa. Lama-lama terasa seru juga.
Satu huruf, dua huruf, tebak lagi.
Tebak kata malam ini.
Ayo, temukan dan tebaklah.
Cermati lagi lalu yakinlah.

(Kembali) Do'a


Kapan kau akan benar-benar menengadahkan tangan? Menghadapkan wajahmu untuk meminta.
Kau tahu, Allah sedang menunggu untaian do'a yang kau rajut setiap detiknya.
Ia Maha Tahu isi hati. Ia hanya ingin mendengarmu mengadu : setiap kata yang tak pernah terucap, yang kau jaga dengan diam, yang kau simpan dalam-dalam.

Hati, apa kau lupa bagaimana berbisik lirih pada-Nya? Kala gundah, di kala resah...
Hati, apa kau takut untuk kembali melangitkan do'a? Kala harap, di kala senyap...
Hati, apa kau tak rindu untuk lama-lama berdua dengan-Nya?
Padahal kau tahu, hanya ia tempat semua keluh kesah. Hanya Ia muara setiap harap. Hanya Ia Pengabul segala pinta.

Hati, ajak aku kembali.

Kehilangan


Kehilangan...
Banyak hal yang datang lalu pergi. Pergi dan tak kembali. Apakah harus diratapi?!

Menahan yang hendak menghilangkan diri adalah hal paling sia-sia. Menahan apa-apa yang akan pergi hanya akan membuat diri menderita.

Terima sajalah. Terima setiap kebingungan karena banyak hal begitu gigih menghilang dari hadapan mata.

Maka, berlatihlah. Berlatihlah dengan semua kehilangan. Lebih gigih lagi. Lebih banyak lagi.

Hingga kehilanganmu, bukan menjadi sebuah derita. Meski tampaknya, (sejak awal) kau tak (berniat) menghilangkan saya.

Tears Of Sheep


Cinta...
Yang bagaikan jejak kaki di atas pasir
pasti tidak akan terbalas
Punggung itu seperti menghalangi perasaanku.
Selalu berjalan sendirian
Setiap aku mendekat........
Seperti halnya pasir di tepi pantai
Yang terhempas kembali ke pantai
Yang tinggal hanya jejak kaki.
Perasaanku padamu seperti halnya tepi laut
yang hanya bisa tenang
tanpa suara...
hanya tulisan yang menghilang