The "Ting" Things


Hari ini ramadhan ke 17. Jum'at, hujan sepanjang hari. Hari kumpul2 terakhir di ramadhan ini bareng cewek2 kece-imut-sholihah macem prima, nuari, vivin, auliya, dan rahma. Berbagi hal seputar how to be the better jewellery in the world #if-you-know-what :D

Banyak the "ting" things hari ini: Meski hujan mengguyur bandarlampung seharian, kami tetep bisa kumpul. Itu, subhanallah banget. Dan nggak ada diantara kami yang basah satupun. Padahal, nggak ada diantara kami yang bawa payung. The "Ting" one...

The "ting" two, hujan sempet berhenti pas jam setengah tigaan. Saat kami sedang asyik berbincang. Sampe adzan ashar berkumandang. And it's amazing, adzan selesai, hujan turun lagi. Ramadhan, jum'at ba'da ashar hujan: praylist goes to the sky timing banget! Allahu Akbar...

The "ting" three, aksi kumpul-kumpul perpisahan-sementara tadi menyenangkan. Rumah shalihat baik hati nan kece prima tetep bisa kita jadiin basecamp selama ramadhan. Padahal sampe semalam, rumah prima hampir aja nggak bisa disewa gratis lagi. Tapi, subhanallah Allah bikin rumah prima, "ting" jadi bisa dipake lagi buat sehari ini tadi :)
Dan lagi, tadi solihat imut nan kece vivin pake kostum cantik banget. Berharap kostumnya nggak pernah dia ganti lagi sampe seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Semoga nyokapnya vivin bisa rela ikhlas anak gadisnya be the better jewellery in the world deh ya :)
Trus juga, calon dokter solihah nan rendah hati nuari meski udah bakalan nggak bisa gabung2 lagi krn harus pergi ke Palembang, tapi tadi udah ngikrarin janji. Buat istiqomah sampai kemudian, kemudian, kemudian, dan kemudian. Dan, saya udah dapet tempat nginap gratis di Palembang liburan nanti. Hihi :)
Pun shalihat pinter nan rendah hati auliya yang bawa berita gembira dengan tersedianya basecamp baru buat kita. Thanks to mamanya auliya yang udah ngasih surat pembebasan rumah sementara untuk kami :)
And the last sholihat kece rahma, yang sedang menunggu ketetapan Allah terkait masa depan. Apapun itu, insyaAllah yang terbaik dari Allah :)

The next "ting" thing, malam ini saya surfing ngalor ngidul. The last but not long-lasting time before my second hiatus for the 10th last day of ramadhan. Dan masyaAllah! I just found some people I've never known well, from my past. But, knowing they have been still alive and  stayed awake, I feel so alive and happy. Buat saya yang sering melemah-lemahkan diri, tauk mereka tetep istiqomah membuat saya seperti dapet kejutan "ting" dan harus istiqomah juga! Buat partner-partner saya dulu di MPM, semoga kalian  semua yang nggak pernah saya kenal hingga hari ini, tetap istiqomah sampai mati. Kalau di syurga nanti kita ketemu, dan mau ngadain semacam MPMP atau KHASS MPM lagi, atau SAINS mungkin, insyaAllah saya siap buat all out lebih dari yang kemarin. Haha :D

Thanks to You, my only one Rabb. Rabbii, terimakasih. Terimakasih buat the "ting" things selama ini. Terimakasih.

:: Dan saya benar-benar siap berhiatus sesi kedua. Sampai ketemu di Lebaran bulan depan :)

Suatu Subuh


Ada sesuatu yang harusnya terjadi di suatu hari, tapi karena kamu berbuat satu kesalahan dan atau itu perbuatan dosa yang jelas-jelas kamu lakukan secara sadar, bisa jadi sesuatu itu malah nggak jadi terjadi. Allah kan bisa aja membuat yang nggak mungkin jadi mungkin, dan berkata,"Jadi, maka jadilah". Dan, itu berarti Allah juga bisa membuat yang harusnya terjadi justru nggak jadi terjadi bukan? Jadi, berhati-hatilah. Karena sesuatu itu harusnya terjadi, tapi malah nggak jadi terjadi. Kalau mau ngembaliin dan nyari-nyari letak kesalahan, ya semua akan berpulang ke dirimu sendiri. Kan jelas-jelas Allah nggak mungkin salah.

Well, sekian.

:: bersiap untuk hiatus yang kedua

The Missing-Messy Thing

We'll go to the hometown next week, insyaAllah. Knowing it makes me really happy. Of course I am glad to visit my grandma, meet my big family, and see another side of view. I'm really excited for planning to the joyable trip to Solo and Jogja with my family. We'll spend our whole time ever to enjoy Baron, Parangkusumo, Malioboro, pasar Klewer, and other exciting places, insyaAllah. Just imagining it makes me feel so happy.

But, there's one thing I wish I could never deal with. My aunt asked me to hicking (together) to Merbabu. And all my family will join in. Ahak, it is Zulfa_ a six years old girl, and Sofiya_ a four years old kid, will join in hicking to the mountain! Oh my God, I really can't deal with. It's a real crazy bad idea, isn't it?! Hicking with the two-never-ever-keep-the manner kids is really crazy bad idea. Ohws...

Then, the Merbabu comes in my mind. Merbabu. Merbabu. There's something up there. There's something mess I must clean up there. Guess, shouldn't me do it four years ago?! Well, perhaps it's kinda late but, I hardly won the self battle. I've never fix all the missing-messy situation.

So then, should me do it this time? I don't really know. I mean, I'm not sure I can face it. It was four years ago. And years went out. I just did nothing for four years. What can I face the missing-messy things? Should me just smile and say, "Well, long time no see. How's your life?"?? Or should me give my angry face and say, "There's nothing ever happen between us. So please don't think too much now."? Or what should I give my face to face it?
But, I thought I must finish it soon. I just want to keep the nice moment of Merbabu as mine. And, I want to make sure that all the missing-messy things should be ended.

Merbabu, should I come this time??

Blank Form


Hapsari. This November I'll get my 25th. For this two years, I always need like-some-wasted-time just to fill the blank form as my occupation. I swear I couldn't decide what I must write that would properly describe what i've done 'till now. Of course, I did not just hang my feet and do nothing. Hey, I'm twenty something. I graduated from the university and got a bachelor title into the last of my name. And I'm not an idiot yet I am not a brilliant as well. So it doesn't make any sense if I just make myself being one of the society-garbage. It's not like I'm the one who can't grateful how blessed I am. Ehehehe

Because of my mom, I didn't apply to a company as my friends or anothers did. She asked me not to join in a company or be a civil servant. She asked me to help her in handling her small-charity institution. Well, heard what she offered me to do for the first time, I was really shock. I had my own dream. I had my life-mapping and, I thought I'll take my steps to reach my dream. But, when my mom asked me to help her, I was out of the blue. It was dillematic for me that time. I cried. I ever thought to run or escape. But, somehow, by a half hearted, I decided to gave in my hope and just took my mom's hope.

Why did I give in to my mom's then? One thing I knew, I used to be a very being-free person. I used to be very rude to her. I used to often made her cried. And with all my many many faults, she loves me still! Yet I knew, I never can repay her kindnesses. Therefore, I tried to cooperate, compromise myself to be a good one after these time. And yeah, inspite of still half hearted, I said yes for what she offered me to do.

So, I entered the small-charity institution of my mom and started involving the management and the teaching-learning. The institution is very small. And it's for charity. The point is, The institution was established (by my mom herself), without any goal as a common institution but just to help poor children. Oh my God, it's really noble and hope it's very useful. But, somehow, I had a contrary thought with her. How could she established an institution, noted: IT IS FOR CHARITY, without a stable fund? I mean, our family isn't wealhty. My father's not a millionaire. If she tried to fund privately, my mom, guess she was out of her mind, was raising the institution with lack of fund time to time. But, it is her, who ever said to me, "It's not about money, dear. It's about the willing to help the children. Although the institution is very small, and it has fund as the problem time to time, but you can see, there's nothing meaningless in Allah's eyes." Well yeah, when she said that, I just could keep my mouth closing.

Well then, i didn't want to quarrel with her all the time. So I placed myself and tried to give her my assistance whenever she needs me. Oh, the assistance I mean isn't about the fund _how could I am, a jobless one! It's just about managing, arranging, and facing (include the stakeholder). Beside that, I help her in teaching to the under six years old children (PAUD). I also teach in Qur'an learning for children (TPQ), and I still have some times in assisting the teenager and young adult to understand Islamic learning (mentoring).

Therefore, what should an accupation status I could pick as mine to fill the blank form?

It's Mine. I Had This Thing.


Pas tadi iseng iseng jelajah, dengan menaruh nama lengkap saya di mesin pencari google, ternyata saya mendapati tiga artikel teratas benar-benar merujuk pada saya secara nyata. Hehe. Berarti nggak ada orang lain yang punya nama yang sama dengan nama lengkap saya: Hapsari Dian Wahyuningrum. Ehehehehe :D

Tiga artikel itu merujuk pada situs milik Unhas(dot)ac(dot)id. Berisi data tentang karya ilmiah saya (It was skripsh*t i called. But now i guess i'll start calling it skripsweet lol). Unhas mengakui kalo saya pernah menjadi bagian disana. Dan kecenya, nama saya selalu disanding denga  nama Pak Patrice yang oks banget itu. Ahahahaha

Ini dia tampilan artikelnya, dan thanks buat fasilitas screenshot :)

R. 1434H

Para Pemburu Lailatul Qadar

Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Di rumah hanya tinggal saya dan aunty. Bokap sedang di Jakarta. Nyokap menjemput Zulfa di sekolahnya. Sista' berangkat rapat Himpaudi ngajak sofiya. Dan kakak ipar kerja. Melihat kesempatan itu, saya dengan cekatan memenuhi hajat perut dengan masak mie instan dan membuat secangkir teh.

Yah, beginilah. Karena memang semua orang di rumah ini puasa kecuali saya, maka saya nggak mengharap ada makanan terhidang di jam siang seperti ini. Makanan sisa sahur hanya tinggal ikan goreng. Sayur sudah ludes. Dan saya, berasa incomplete kalau makan nasi tanpa kuah. Alhasil, saya masak mie instan kesukaan: indomie rasa soto :9

Aunty yang melihat kelakuan saya cuma geleng-geleng kepala. Bukan bermaksud tidak sopan atau apa, tapi saya menganggap bahwa aunty sudah dewasa, jadi saya santai aja makan di depan dia. Hehe *please don't try this when you outside home :D
Sambil menikmati secangkir teh dengan suasana ala-ala jepang-korea, saya ngobrol santai sama aunty.

Aunty: "Haps, malam lailatul qadar itu kita ngapain aja sih?"
Saya: "Ya beribadah. Shalat, tadarusan, dzikir, banyak-banyak berdo'a..."
Aunty: "Jadi, malam lailatul qadar itu kita begadang ya?"
Saya: "Ya, idealnya..."
Aunty: "Jadi, begadang buat shalat, shalat apa aja sebanyak itu, haps?"
Saya: "Ya shalat sunnah apa aja. Tahajjud, taubat, istikhoroh, yaaa shalat di malam hari pokoknya lah. Shalat kok shalat apa aja sih aunt?!"
Aunty: "Hehe, banyak-banyakin berdoa bagus ya haps?"
Saya: "Iya, banyak-banyakin berdoa. Banyak-banyakin mohon ampun sama Allah."
Aunty: "Trus haps, emang buat ngedapetin lailatul qadar itu harus i'tikaf ya? I'tikaf itu ngapain aja sih?"
Saya: "Ehm, gimana ya aunt? Semua orang bisa ngedapetin malam lailatul qadar secara timing. Tapi nggak semua orang bisa ngedapetin ampunan dari Allah di malam lailatul qadar, aunt. Lailatul qadar kan lebih baik dari 1000 bulan, it means kalo kita beribadah di malam itu, kita tuh layaknya beribadah selama 84tahunan loh aunt. Nah, kalo i'tikaf di masjid itu kan dia menghabiskan seluruh waktunya buat beribadah. Shalat, dzikir, berdo'a, tadarusan, shalat lagi, dzikir-dzikir lagi, tadarusan terus, dan berdo'a terus. Bahkan, tidurnya mereka yang i'tikaf aja terhitung ibadah. Jadi, sudah jelas mereka akan terhitung beribadah selama malam lailatul qadar berlangsung, aunt. Kesempatan mereka untuk "terhitung" lebih besar dibanding kita-kita yang mencoba meraih keutamaan lailatul qadar di rumah. Karena kita masih berkutat dengan urusan-urusan dunia. Ya gitu lah aunt." *sambil angkat bahu dan garuk-garuk kepala. Teh di cangkir udah kosong aja.
Aunty: "Kalo gitu kita i'tikaf yuk... Di masjid al Amin ada loh i'tikaf buat ceweknya..."
Saya: "Bukannya pekan depan insyaAlah kita udah mudik ke Jawa ya aunt?I'tikaf kan di 10 malam terakhir....."
Aunty: "Eh, iya ya. Kita insyaAllah udah di Jawa pas 10 malam terakhir. Ehehehe."

Lalu percakapan pun berlanjut ke rencana seputar mudik ke Jawa. Planning ke Baron, Parang kusumo, Solo dan pasarklewernya, serta banyak rencana lainnya. Yah, beginilah case hasn't closed yet, but we've been being just already busy with another busy-ing "dunia" things.

Ramadhan 1434H

Menebar Kebaikan Bersama

"Ayo dong, de. Masa' kita puas gini-gini aja. Masa' nggak kepingin buat sebuah langkah apa kek gitu. Orang sholih itu, bukan cuma untuk dirinya sendiri loh ya. Orang sholih itu, harus mensholihkan orang lain juga." Perempuan yang paling kecil diantara tiga orang itu berujar pada dua perempuan lainnya. Yang lain, diam sambil menunduk.

"Kalian kan sudah berbuat untuk diri kalian. Kalian sudah berupaya mensholihkan diri kalian. Jadi, sudah waktunya kalian berbuat untuk lingkungan kalian. Jadi, mari pikirkan langkah apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita." Masih, perempuan kecil itu berbicara pada dua yang lainnya.

"Tapi mbak, kita nih bingung loh mbak. Apa yang bisa kita lakuin." Seorang perempuan yang memakai kacamata menjawab dengan wajah masih tertunduk.

"Yah, apapun yang kalian bisa lakuin. Yang berguna. Yang membawa manfaat bagi orang lain. Hei, ambil momen ramadhan. Momen paling pas untuk menebar kebaikan." Perempuan kecil itu menanggapi.

"Tapi mbak, kita ini udah hampir kehilangan power lho mbak. Sebentar lagi kita udah demisioner." Perempuan terakhir, yang paling manis diantara mereka bertiga, mengungkapkan uneg-unegnya.

"Kalau gitu mari kita pikirkan bersama." Perempuan kecil mengambil pulpen dan kertas. Lalu mulai membuat sebuah garis vertikal dan sebuah garis horizon. Kedua garis itu bertemu di sebuah titik tengah, maka kertas tersebut terbagi kedalam empat bagian. Perempuan itu mulai memberi lebel sebuah huruf di tiap kotak: S-W-O-T

Sekitar sepuluh sampai lima belas menit ketiga perempuan itu duduk melingkar dengan sebuah kertas ditengah-tengah mereka. Berbicara ngalor ngidul tentang keinginan membagi kesholihan kepada orang lain. Sebagai sebuah bentuk kesyukuran atas kesholihan yang telah sedang mereka upayakan untuk diri mereka sendiri. Lalu, entah dari mana aliran itu berasal, sebuah semangat dan azzam yang kuat tersengat kedalam darah ketiga perempuan tersebut, menyertai salam penutup saat mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Padahal, sampai mereka berpisah, belum ada keputusan pasti tentang langkah apa yang akan mereka ambil.

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya." (QS65:2)

Dua puluh tiga hari setelah percakapan itu, ketiga perempuan tersebut bertemu lagi. Dalam sebuah langkah nyata untuk menebar kebaikan bersama di bulan ramadhan. Lingkungan serba hijau menjadi saksi kebersamaan mereka. Semoga Allah memberkahi langkah ketiga perempuan itu, dan mengumpulkan mereka kelak di syurga yang Allah janjikan.

Semoga, langkah pertama itu menciptakan langkah-langkah nyata berikutnya. Semoga kebaikan semakin merajalela di bumi. Semoga ketiga perempuan itu mampu menjelma menjadi seribu perempuan berikutnya. Semoga ketiga perempuan itu mampu menjadi perempuan sholih sampai mati.

Ramadhan 1434 H

Ramadhan Suka-Suka

Subhanallah, saya mampu melewati 10 hari pertama ramadhan. Dan di dua pertiga ini, saya telah menjerit di pagi-pagi buta. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Itu takdir Allah yang nggak bisa dielakkan. Saya, perempuan :)

Alhamdulillah, saya sudah melewati satu kali putaran. Sempet menghadapi rasa malas, sempet juga ngeyel-ngeyelan karena mau menangin diri sendiri. Whatsoever, ramadhan tahun ini, saya sangat suka ♥

Pertama , meski ada perbedaan waktu awal ramadhan, tapi ramadhan kali ini keluargaku sewarna semua. Puasa pertama kami hari Rabu, 10 Juli 2013. Padahal, saya udah deg-degan banget. Males gontok-gontokan sama nyokap dan aunty kalo mereka ngotot ngikut puasa hari selasa. Soalnya, pengalaman-pengalaman sebelumnya gitu. Nyokap sama aunty selalu ngikut yang puasa duluan. Sementara saya, ngikut pemerintah. Dan, nyokap susah mentolerir perbedaan terkait waktu puasa ini. Yang lalu-lalu sih saya bisa ngehindar karena saya ngekost. Nah kalo udah serumah, nggak mungkin buat saya bisa ngebedain diri tanpa gontok-gontokan dulu. Tapi, subhanallah! Nyokap sama aunty ngikut hari Rabu. Alasan mereka, "Kan emang hilal nggak terlihat. Masa' kita mau puasa?!" Hihihi, ramadhan ini suka deh ♥

Kedua , ramadhan tahun ini alhamdulillah saya ngerasain tarawih berjamaah bareng ladies di rumah. Tahun kemaren, saya masih shalat sendiri. Mereka diajakin jama'ahan nggak mau. Alasannya, ritme kami berbeda. Nyokap shalat tarawihnya sistem cicilan: Empat setelah isya, empat sebelum tidur, dan tiga sebelum sahur. Kalau sista' tarawihnya nunggu anaknya dua itu tidur dulu. Kalau aunty ritmenya kapan dia mood: bisa setelah isya, bisa sebelum tidur, atau tengah malam sebelum sahur. Dan saya sendiri lebih suka di awal waktu. Keburu ngantuk, keburu malesnya dateng. But well yeah, ramadhan kali ini, tetiba aunty inisiatif ngajak tarawih berjama'ah biar lebih semangat. Jadi deh ruang tengah sebagai mushala dadakan :)

Ketiga , ramadhan tahun ini cuacanya dingin sejuk basah banget. Udah lama banget saya nggak ngedapetin ramadhan hujan. Bertahun-tahun, ramadhan selalu panas. Tapi, kali ini siangnya sejuk. Malamnya brrr. Hari pertama puasa, hujan turun dengan sangat deras. Berasa ramadhan tahun ini istimewa gimana gitu. Ibadah siang jadi semangat. Puasa jadi nggak terlalu berasa. Lemes, nggak tuh.... :)

Keempat , pewarnaan itu udah berasa di ramadhan tahun ini. Saya mewarnai dan diwarnai. Dalam hal makanan, alhamdulillah keluarga udah nggak semewah tahun kemaren. Menu berbuka pun tergolong biasa dan wajar. Hanya kurma, snack ringan, dan nasi plus lauk pauk. Sahur pun hanya nasi dan lauk pauk, plus teh hangat (kalau sempat). Jadi, nggak lebay kayak tahun kemaren. Dan saya, sudah terwarnai pulak. Kalo tahun kemaren masih kebawa suasana anak kost yang akrab dengan keterbatasan: sebatas kurma dan nasi bungkus saja, tahun ini saya membiasakan diri menyantap snack ringan bareng keluarga. Yah, it feels homey

Kelima , saya mendapat banyak hal yang membuat saya seperti ter-recharge. Saya bisa kumpul dengan cewek-cewek imut sholihah macem prima, nuari, auliya, vivin, rahma, dan desy. Dari mereka saya belajar untuk tetap berupaya istiqomah. Saya juga dapet keringanan ngajar selama ramadhan. Cuma 2× sehari dan dapet kortingan durasi jamnya pulak. Saya juga dapet saingan buat lomba tadarusan. Siapa yang paling bisa better di ramadhan ini. Saya juga udah nyiapin pray list  buat dilantunin sepanjang bulan ini. Dan, masih banyak kejutan-kejutan lainnya yang bikin ramadhan ini berasa sangat suka :)

Pokoknya, ramadhan tahun ini saya sukkkkkkkkaaaaaa ♥

Do'a Ramadhan


Do'a yang dianjurkan untuk banyak-banyak dibaca selama bulan ramadhan, terutama pada 10 malam terakhir:

ALLAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN, TUHIBBUL 'AFWA, FA' FU-'ANNI.

Arti: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku.

Semoga kita bisa menjalankan ibadah ramadhan dengan sebaik-baiknya ya all the moslem people in the world  :)

Perceraian


Selebritis bercerai, sepertinya hal yang biasa. Lumrah-lumrah aja. Semacam, cerai sudah bagian dari gaya hidup mereka. Lantas, apa mereka yang bukan selebritis kehidupan pernikahannya baik-baik aja? Haha, seperti semacam virus yang menular dengan massive. Perceraian dewasa ini bahkan dialami pasutri (pasangan suami istri) di area terisolir sekalipun. Rasanya, bukan aib, bukan dosa, bukan hal yang luar biasa. Inilah...

Tapi, apa memang cerai itu dosa? Apa memang cerai itu dilarang agama? Lantas, kenapa saya jadi sebegitu sewotnya?

Cerai, emang bukan sesuatu yang diharamkan. Tapi, Allah membencinya. Begitu yang dulu pernah saya pelajari dari buku fiqih sekolah. Jadi, yang ada di kepala saya yang dangkal ini, cerai tidak seharusnya menjadi hal yang dimudah-mudahkan. Cerai tidak seharusnya menjadi hal yang wajar. Cerai tidak seharusnya menjadi gaya hidup seorang muslim. Karena, Allah benci. Dan, apakah seorang hamba akan melakukan hal yang membuat Rabbnya benci?

Pagi ini tadi, temen nyokap dateng ke rumah. Hari ini beliau akan sidang cerai di pengadilan agama. Rangkaian sidang yang entah, sudah yang keberapa kalinya. Terlepas dari kehidupan rumah tangganya yang kacau, temen nyokap ini saya kenal sebagai perempuan yang sangat cantik, suka membantu orang lain, sangat menyenangkan, suka berkorban demi kepentingan orang lain, serta memiliki kepribadian down to earth meski secara penampilan dan kemampuan, kita bisa memastikan kalau she's high, up to sky.

Temen nyokap ini, dulu pernah membatalkan gugatan cerainya, karena nyokap memprovokasi beliau agar mempertahankan rumah tangga. Memperbaiki semua, dan memulai kembali bahtera rumah tangga. 3 tahun mereka bertahan, sampai akhirnya sekitar sebulan lalu semua pecah dan temen nyokap nggak sanggup lagi. Nyokap yang awalnya menahan, pun kini membebaskan. Nyokap, saya rasa, menempatkan diri sebagai teman yang baik. Nyokap tetap menasehatkan, menimbang dari dua sisi pertimbangan. Tapi tetap membantu beliau kesana kesitu terkait perceraiannya.

Saya tipikal orang yang nggak pernah ingin mencampuri urusan para tetua. Saya lebih suka berpura-pura nggak tahu. Lebih suka diam saja pasang senyum menganggap semua di luar jangkauanku. Lebih mudah rasanya buatku.

Pun, pagi ini tadi ketika saya dimintai tolong mengetikkan beberapa kalimat terkait surat sanggahan yang intinya, temen nyokap keukeuh ingin bercerai. Saya pasang muka biasa aja. Lagi, saya menahan lisan untuk nggak berkomentar apa-apa. Itu urusan para orang tua. Saya, anak kecil, berpura-pura nggak tahu aja. Lebih mudah buat semua, terutama saya.

Sejatinya, saya tahu kalau cerai itu bukan dosa. Meski Allah murka, tapi Ia tak mengharamkannya. Karena Allah Maha Tahu keadaan hamba-hambaNya. Cerai, adalah sebuah solusi paling mentok ketika sebuah ibadah bernama pernikahan nggak bisa lagi dipertahankan. Dan, cerai itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Cerai yang tak terhitung dosa, memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Seorang istri yang nggak taat pada suami. Seorang suami yang nggak bisa memenuhi kebutuhan istri. Terjadi pelanggaran syarat/perjanjian pra nikah. Atau diantara suami atau istri yang keluar dari agama. Dan, nggak pernah saya dengar, alasan yang memperbolehkan perceraian "karena sudah nggak cinta lagi" atau "karena sudah nggak ada kecocokan lagi". Benar-benar alasan yang nggak syar'i.

Lalu, bagaimana jikalau pasangan berselingkuh? Daripada berselingkuh, mending cerai saja. Pernah saya mendapati pernyataan yang seperti itu terlontar kepada saya. Yah, itulah manusia. Meski saya menentang perceraian tanpa sebab yang syar'i, tapi saya bukan orang yang lantas melegalkan perselingkuhan. Saya paling benci dengan  kata selingkuh. Rasanya, jika nama itu disebut, naluri saya tetiba ingin membunuh (nyamuk :D).

Asal tahu saja, dalam hukum Islam, pasutri yang berselingkuh (berzina) hukumannya adalah rajam! Rajam berarti dilempari batu sampai mati. Kejam? Coba pakai akal sehat sebelum mengatakan kalau rajam itu kejam. Seorang lelaki atau perempuan yang telah menikah, berarti ia telah memiliki sarana menyalurkan nafsu syahwatnya secara halal. Yaitu pasangannya. Jadi, jika dia sudah punya pasangan yang halal untuk ia campuri, kenapa mesti ia mencari orang lain untuk menyalurkan syahwatnya secara haram? Padahal, yang halal ada. Bukankah pasutri yang berzina itu lebih kejam daripada rajam? Kalau pasangannya impoten atau nggak mampu memenuhi kebutuhan syahwatnya, artinya terpenuhi syarat untuk bercerai. Tapi kalau pasangannya sehat-sehat saja, nggak ada masalah dengan pemenuhan kebutuhan syahwat dsb, kenapa mesti berselingkuh? Kenapa mesti menginginkan perceraiaan? Bagaimana mungkin Allah nggak murka?

Entahlah, ini pemikiran saya secara dangkal. Kadang, kita juga nggak bisa nge-judge pasutri yang bercerai. Apakah memang perceraiannya benar-benar karena alasan yang syar'i atau hanya sekedar mengikuti nafsu karena kepincut "cinta yang baru" atau sekedar mengikuti tren kawin-cerai. Tapi sejatinya, saya mengambil beberapa pelajaran.

Saya pikir, untuk menghindari terjadinya perceraian,  kita membutuhkan landasan yang kokoh dalam membina hubungan pernikahan. Terlepas dari takdir yang Allah tentukan di masa depan, buat saya, sangat penting untuk menikah dengan orang yang memiliki pemikiran yang sama seperti saya: bahwa menikah adalah ibadah. Hal yang sakral. Harus dipertahankan. Menutup pintu bagi kata cerai. Maka, masih menurut saya, saya harus menikah dengan seorang ikhwan paling sholih. Yang di mulutnya, tertahan kata cerai. Ia nggak bisa mengucapkannya padaku. Karena ia takut kalau Allah murka ketika kata itu keluar dari mulutnya. Dan saya, sedari awal, meski belum menikah, sudah berazzam untuk mempertahankan hubungan pernikahan saya kelak. Semoga tertakdir yang terbaik!

Padaku, Banyak yang Sebenarnya Bukan


Kata

Laku

Cara

Ramu

Berbagi (Suka ♥)


Berbagi. Saya sangat suka momen berbagi. Apapun yang bisa dibagi. Uang, pakaian, sembako, saya sangat suka dengan kegiatan baksos kampus. Selalu ada cinta yang menyertai aktivitas berbagi. Dan, saya juga suka berbagi tawa. Saya suka dengan cerita jenaka. Tawa mengundang bahagia. Saya selalu suka.

Saya juga suka berbagi cerita. Cerita mampu menghidupkan orang yang hampir mati. Cerita mampu menggugah semangat untuk menyala kembali. Dan, cerita mampu memberi kekuatan bagi seseorang untuk melewati masa-masa sulit. Dalam cerita, seseorang bisa mengambil pengalaman hidup orang lain sebagai pembelajaran bagi hidupnya. Saya suka berbagi cerita.

Tapi yang paling saya suka, saya suka berbagi ilmu. Ketika saya mendapatkan sebuah ilmu dan pengetahuan baru, saya selalu ingin membaginya kepada siapapun yang ada di dekat saya. Saya selalu ingin agar orang lain juga tahu. Ilmu ibarat cahaya yang menerangi jalan. Seseorang yang hidup tanpa ilmu, bagaikan berjalan di malam yang sangat gelap, tanpa ada lampu, bintang, dan bulan. Dan, seseorang nggak akan bisa berjalan tanpa ada penerangan. Jika ilmunya sebatas lilin, maka penglihatannya ya hanya mencakup jangkauan lingkaran cahaya lilin. Pun jika ilmunya laksana bulan purnama, maka penglihatannya akan luas dan mata bisa melihat kemana-mana. Saya suka berbagi ilmu. Kalau pencahayaan semakin banyak, semakin kita mampu jauh melihat.

Tapi, saya lebih suka berbagi ilmu secara nyata. Face to face. Karena saya mengharap ada feedback dari orang yang saya bagi. Apakah dia mengerti. Apakah justru perlu diulangi. Saya nggak terlalu pinter berbagi ilmu melalui tulisan. Jejaring sosial saya, isinya sampah serapah aja. Nggak ada ilmu disana. Saya nggak bisa. Nggak pernah bisa menjadikan jejaring sosial tempat berbagi ilmu. Buat saya, ilmu yang disampaikan melalui lisan bisa menjelma sebagai mantra yang masuk ke telinga dan meresap ke dalam hati manusia. Sementara tulisan bisa bersifat ambigu. Dan si pembaca, belum tentu akan bertanya kepada si penulis meluruskan kalau-kalau pemahamannya salah.

Dulu juga, tiap sekolah saya selalu lebih bisa ngedapetin "feel" dari sebuah mata pelajaran dengan mengambil ilmu dari guru, bukan buku. Saya selalu merasa cukup dengan bekal ilmu yang disampaikan guru saya, ketimbang sibuk menghapalkan seluruh isi buku. Lebih nyantol di kepala, lebih bermanfaat dan tahan lama, rasanya. Entahlah, mungkin ini tendensi pribadi saya aja :)

Yuk, yang mau berbagi hubungi saya. Saya suka banget bekerjasama menggelar baksos dan semacamnya, saya juga suka bercerita, bercanda tawa, dan berbagi ilmu yang insyaAllah berguna :)

Don't Ever Don't


Ingat satu hal ini, haps:
JANGAN PERNAH TERSESAT. KARENA KAU AKAN SULIT KEMBALI.

Marhaban ya Ramadhan


Hei, ramadhan udah mendekat. Apa yang udah kamu siapin, haps? #jlebb mental banget saya sama pertanyaan itu.

Fisik udah siap?
Yah, siap nggak siap harus siap lah. Puasa kan emang kewajiban. Tetap berharap nggak punya hutang sih. Aktivitas keseharian tetep jalan? Ini dia yang bikin ogah-ogahan. Ramadhan bulan bazar pahala, tapi mesti tetep berkutat sama aktivitas dunia. Yah......

Berdiri sejaman buat shalat tarawih, bisa tahan?
Hm, insyaAllah diusahain. Tarawih kan cuma ada sekali dalam setahun. Jadi, rugi banget sih kalo sampe nggak tarawihan. Jamaahan? Nah ini dia ni problemanya. Tahun ini saya ramadhan di rumah. Which is, mushalla di lingkungan sini kalo shalat tarawih cepetnya na'udzubillah. Jadi kecapean karena ngikutin imamnya saking flash phantom banget. Masjidnya, jauhhhhh... jalanan gelep, nggak nyaman banget buat cewek kece keluar sendirian :uhuk
Jadi yah......

Bangun tengah malam buat sahur?
Alhamdulillah sahurnya bareng keluarga. Seenggaknya, bahu membahu dalam pengelolaan waktu dan saling mengingatkan untuk tetap sahur dengan khusyuk, bukan justru berlebih-lebihan terkait makanan. Dan juga, jadi ngebangun lagi semangat buat qiyamul lail :)

Tadarusan?
Iya nih, tetep mentarget buat bisa khatam minimal 2kali selama ramadhan ini. Tapi, here's something wrong with my eyes. Sekitar 3 bulan ini saya selalu merasa pandangan mata saya sering mengabur. Saya jadi bener2 nggak bisa melihat meski jaraknya hanya 15cm dari mataku. Bukan, bukan nggak melihat seperti saya mendapati sekitar gelap pekat. Bukan. Tapi, semacam gambar berwarna kabur yang bergelombang dan saya nggak bisa mengidentifikasi gambar apa dihadapanku itu. Periksa mata? Malas ah. Saya cuma berharap mata saya sembuh dengan sendirinya. Mudah-mudahan aja ramadhan memberi keajaiban bagi mata saya :D

Sedekah tetap berkesinambungan?
InsyaAllah! Semoga rizki saya selalu dilancarkan dan tangan saya nggak dibelenggu. Udah ada rencana buat ngalirin dana? InsyaAllah TPQ di rumah bikin event selama ramadhan. InsyaAllah bermanfaat :)

Ada persiapan yang lain?
Iya, insyaAllah tetep berazzam untuk nggak nyentuh internet selama ramadhan, kecuali pada masa cuti ramadhan :)
Dan juga, berkompromi dengan nafsu untuk merasa cukup dengan  kurma, nasi+lauk pauk sebagai hidangan berbuka puasa. Atau menggantinya dengan kurma+ kolak/esbuah, dsb tanpa menyentuh nasi sebagai hidangan berbuka. Itu agar perut nggak terlalu penuh dan lupa pada esensi puasa di siangnya.
Berbakti kepada keluarga lebih intensif lagi. Menahan mulut agar nggak membantah. Berusaha menjaga sikap meski kontra terhadap pemikiran mereka. Siapin kunci invisible buat mulut selama kumpul keluarga besar.
Nggak berniat ngisi pulsa. Nggak mau sibuk dengan sms atau tlp selama ramadhan. Kecuali untuk hal yang penting dan mendesak.
Plus, nyiapin do'a-do'a yang akan dilantunkan sepanjang ramadhan.

Ramadhan.... jadikan saya salah satu orang yang lulus dengan predikat taqwa ya :)

Cemburu


Dan, saya pun baru merasakan perasaan yang dimiliki oleh orang-orang miskin (dari kalangan para sahabat) yang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka berkata kepada Rasulullah tentang kecemburan mereka terhadap orang-orang kaya. Mereka menyebutkan, betapa orang-orang kaya tersebut bisa mendapat pahala karena harta yang mereka miliki, dan mereka mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan mereka mendapat kenikmatan abadi di syurga. Karena orang-orang kaya itu melakukan ibadah (shalat dan puasa) yang sama seperti orang miskin, tapi disamping itu, mereka memiliki kelebihan harta yang bisa mereka gunakan untuk ibadah haji, umroh, jihad, dan sedekah. Sementara orang miskin nggak bisa melakukannya.*

Hari ini tadi, saya baru merasakan kecemburuan itu.Kecemburuan seorang yang hanya mampu menyumbang 15ribu sementara kumpulan ibu-ibu dihadapanku mampu menanggung 200ribu, 100ribu, dan sekian ratus ribu lainnya.

Hari ini tadi, saya baru merasakan kecemburuan terhadap semangat para ibu-ibu itu untuk memuliakan tamu yang datang, meluangkan waktu mereka dan sangat bersemangat untuk berkorban. Sementara saya yang masih muda, semangatnya masih sering up and down. Saya, jadi malu. Bener-bener malu.

Sebenarnya, saya nggak merasa miskin karena saya pribadi nggak pernah merasakan bagaimana itu kaya secara nyata. Hanya saja, kemampuan saya belum menyamai para ibu-ibu tersebut secara finansial. Rasanya, cemburu banget mendapati mereka sangat loyal dalam pengeluaran dana untuk sedekah. Rasanya sangat cemburu saat tau kalo diantara ibu-ibu itu ada yang hendak berangkat haji dengan biaya sendiri. Rasanya, cemburu ini semakin menjadi karena semangat mereka meraih pahala itu, mengalahkan semangat kami para anak muda.

Dan saya, tetap berazzam, meski (seandainya pun) tak ditakdirkan Allah menjadi kaya secara finansial, saya ingin tetap kaya hati. Lapang dan sempit tetap bisa berbagi. InsyaAllah. Semoga bisa!

*Kisah ini dijelaskan secara rinci dalam Hadits Shohih Bukhari dan Muslim

Pursuit of Happiness


Saya pikir, sudah cukup. Saya sudah bahagia. Tapi pada kenyataannya, saya masih ingin mencari kebahagiaan saya yang lain.  Ternyata, saya masih ingin pergi ke banyak tempat. Mengenal lebih banyak orang. Mendapat lebih banyak pengalaman. Saya masih menyimpan keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan saya yang lain.

Ketika saya berada di tengah-tengah keluarga, saya merasa inilah dunia saya. Tempat saya selalu diterima. Tempat yang penuh dengan cinta. Tempat dimana saya selalu bisa menjadi diri saya apa adanya. I have everything. Kumpul keluarga. Aktivitas keagamaan jalan. Saya bisa tetap kajian. Kerjaan pun nggak memusingkan. Bisa liburan kapanpun saya inginkan. Duit, meski nggak banyak tapi alhamdulillah selalu punya. Jadi, (pikir saya) kenapa saya mesti nggak bahagia?

Saya, bahagia. Tapi, yah itulah manusia. Saya pun hendak keluar dari round ini dan meneruskan round yang berikutnya. Sepertinya, ada eskalasi yang harus saya masuki, saya tapaki. Hidup saya ibarat sebuah process yang menghendaki progress. Saya, menginginkan sesuatu yang lain.

S2? Ya, mungkin saya masih menginginkannya. Saya ingin kuliah lagi. Otak saya selalu lapar untuk dijejali dengan ilmu dan pengetahuan. Tapi, sepertinya ada esensi lain yang melatarbelakangi keinginan saya untuk masuk kembali ke arena civitas akademika. Saya rindu kebersamaan yang diiringi dengan  pergerakan. Saya rindu berkumpul dengan orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai idealisme tak terkalahkan. Saya rindu berkoar-koar menyalakan api semangat jiwa abadi untuk diteruskan atas nama perjuangan. Saya rindu semua itu.

Tapi,
Kenapa biaya S2 begitu mahhhhaaaaaallllll????????????

Adakah manusia berbudi dan baik hati yang peduli lalu mau berdonasi?

Nah, jadi misi pertama saya adalah, menemukan seorang lelaki paling sholih yang berkenan jadi suami dan bersedia menjadi donatur utama bagi kelangsungan hidup otak dan jiwa saya yang serakah ini.
Ahahahahahahahaha :)

F???i???l???s???a???f???a???t??? Tersesat


Jangan mengambil mataku untuk kau pakai melihat. Karena kau tak akan pernah bisa memperkirakan seberapa dalam jurang yang akan kau masuki. Kegelapan yang terhampar begitu pekat.
Kau mungkin akan kehilangan arah. Kau mungkin tak akan bisa lagi mengetahui kemana kakimu harus melangkah. Bahkan, kau mungkin sudah tak bisa mendeteksi dimana kakimu bisa berpijak.
Mengambil mataku berarti kau membuat dirimu tak lagi tahu kemana harus kau arahkan pandangan, bagian mana yang bisa kau gunakan sebagai sandaran selama perjalanan.
Begitulah, kau mungkin akan tersesat dan tak bisa kembali. Jadi jangan pernah mengambil mataku untuk kau pakai melihat. Karena mata ini penuh dengan kegelapan yang membutakan.