My Life (I'm Thirty Something)

 

Udah lama banget aku nggak nulis. Kenapa? Karena mungkin aku ngerasa udah sedikit bisa merasa bahagia. Sehingga aku nggak perlu menulis sebagai salah satu jalan untuk menghibur dan menyemangati diri. Dan menurutku itu hal yang baik sih. Makanya aku santai aja. Toh, aku nggak mengharap apa-apa dengan menulis blog ini kecuali menjaga agar diri ini tetap waras.

Dan hari ini aku berfikir untuk menulis lagi. Karena ada satu hal yang menjadi ganjalan dan aku nggak ingin hal ini malah menjadi penyakit yang mengganggu kebahagiaan hatiku. Toh, siapa sih yang baca blog ini? Kecuali mereka yang tersesat dan nggak sengaja terdampar menemukan tulisan yang aku yakin ini bukanlah hal yang menarik. 

Sekali lagi, aku menulis hanya untuk menenangkan hatiku. Ya, sebegitu self-sentris-nya aku. But why not? Aku hanya mencoba untuk menyayangi dan melindungi diriku sendiri. Haha 

Di usiaku yang hampir 33th, aku nggak banyak lagi mengalami kontemplasi2 yang berarti. Life dilemma atau krisis dalam hidup udah aku lewati sebelum menginjak usia 30. Alhamdulillah aku mampu berdamai dengan diri sendiri, dengan orang tua, dengan keadaan yang menjadi takdirku. Dan itu membahagiakan menurutku. Membuat hidupku jauh lebih mudah. Dan aku banyak2 bersyukur dengan hal tersebut.

Aku yang masih menyandang status bersendirian juga nggak merasa terlalu terbebani. Satu hal yang aku juga syukuri, aku nggak diuji Allah dengan fitnah lawan jenis. Maksudku, aku bukan tipe cewek yang haus akan perhatian dan kasih sayang dari lawan jenis. Aku punya temen2 yang peduli, kasih sayang yang cukup dari keluarga, dan komunitas yang baik untuk bisa menjalani hidup dengan nyaman. Jadi, aku nggak begitu merasa kesepian dengan statusku yang sekarang.

Apa aku nggak tertarik dengan lawan jenis? Haha. Alhamdulillah aku merasa masih normal. Aku suka dengan cowok ganteng. Aku pernah merasa tertarik dengan senior, atau teman saat bersekolah. Tapi, aku memilih untuk menjadi diriku yang bebas dengan tidak mengikatkan diri pada sebuah hubungan bernama pacaran. Aku nggak suka terikat atau mengikat. Aku nggak suka diatur dan nggak mau juga terlalu banyak mengatur. Aku, lebih suka bertanggung jawab terhadap diriku. Aku nggak suka terbebani dengan orang lain. Karena aku sendiri merasa diriku sudah cukup menyita waktu dan pikiranku. Ya, aku se-self-sentris itu.

Tapi sekali lagi, so what? Toh, aku nggak menyakiti siapapun. Aku berusaha untuk menjaga diriku agar nggak tersakiti. Dan aku merasa tidak menyakiti siapapun. Saat SMP, ada teman yang mengaku naksir aku. Tapi nggak aku tanggepin karena dia nggak bicara langsung padaku. Dia justru mengakui itu di hadapan teman-temanku yang lain yang kebetulan saat itu aku juga berada di ruang yang sama. Tapi, apa yang bisa aku lakukan selain pura2 nggak mendengarnya? Toh, dia nggak bicara langsung padaku 

Saat lulus SMA, seorang teman mengungkapkan perasaannya padaku. Sekedar mengungkapkan perasaannya. Karena dia tau aku akan pergi jauh. Melanjutkan kuliah ke kota lain. Dia pun sudah merencanakan untuk bekerja di kota yang jauh berbeda dengan kota tujuanku. Lalu, aku harus membalas apa? Akay hanya jujur tentang perasaanku saat itu. Bahwa aku nggak melihat dia lebih dari sekedar teman. Dan aku juga nggak menutup jalan untuk dia. Kalo dia mau berjuang, aku persilakan. Tapi, aku nggak bisa menjanjikan apapun. Karena aku memang se-gamang itu saat itu.

Saat kuliah, aku nggak lagi melihat perasaan tertarik pada lawan jenis sebagai sebuah prioritas. Ada hal yang lebih urgen yang menjadi fokus perhatianku saat itu. Perbaikan diri. Rehab jiwa. Iya, sudah sejak lama aku merasa "there's something wrong with me". Dan Alhamdulillah saat aku kuliah Allah memberi jalan untuk aku menganalisa, memperbaiki, dan mulai membenahi hal-hal yang menyangkut diriku. Fokus pada diriku sendiri. Karena aku pikir, nggak mungkin aku membangun sebuah hubungan jika aku nggak menyembuhkan diriku saat itu. 

Lulus kuliah, aku kembali ke keluargaku. Salah satu faktor terbesar adanya "something wrong" pada diriku. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa berdamai dan rekonsiliasi. Tapi, Alhamdulillah. Sampai aku tiba di titik hari ini. Meski kata orang usia thirty something adalah usia rawan, harusnya sudah menikah dan punya anak, but once again, so what? Hidupku, aku yang menjalaninya. Dan aku sudah berusaha menyelaraskan dengan orang2 yang relate dengan kehidupanku. Dan aku Alhamdulillah tipe orang yang nggak terlalu terpengaruh dengan apa yang berada di luar duniaku.

Well, tulisan ini mungkin cuma sebagai pengingat dan penguat aku dalam menjalani usiaku saat ini. Age is just a number. Menikah cuma satu dari sekian stase dalam hidup. Ada yang memilikinya, ada juga yang enggak. Dan itu pun hanya perkara di dunia. Sementara di akhirat nanti (kalo Allah takdirin masuk syurga), setiap orang akan bersama dengan pasangannya masing2. Itu janji Allah. 

So, haps... Cheer up lah. Hidup kamu toh nggak menyedihkan amat. Your heart's more at ease, now right? Ada saat sedih atau terluka adalah hal yang biasa dalam hidup. Tapi kamu toh sekarang sudah tahu bagaimana rasanya bahagia itu. Jadi berbahagialah, haps! Kamu berhak kok mendapatkannya. 






Nocturnal, Tonight


I had an exam tomorrow. For my teaching skills. I thought Im not qualified enough to be a part of tomorrow event. But, i got a mssg to go (virtual tho. Via zoom. Haha) and take an exam tomorrow. 

My friend (who will join tomorrow exam too) sent me the materials that will be on exam. But, im not really sure because I feel so overwhelmed. It's just too much. 10 lessons (with double, triple, or more pages per lessons) to be read just a night? I don't think Im that genius to understand or memorize those all. But I try to study, still. Haha.


Well, I don't know how i'll go through tomorrow event. But, wish me luck. Haha.


One thing for sure, I just can always say "i don't know" if i really don't understand what to answer. It is about teaching right? Why do we try to make up something we don't really understand? I just need to learn it first. And if i havent learn it yet, it means i may only need more time. As easy as that. Haha

Nothing to lose right haps? Haha


After 8 Years


Aku udah duga sih kalo Mom bakal kayak gitu. Biasanya Mom nggak pernah masuk kamar, tidur cepet sebelum jam 9. Tapi malam ini mom bahkan udah masuk kamar jam 8.30, jam 9 sudah didapati kalo mom tertidur. Ini mungkin karena aku. Pembicaraanku sore tadi.

Aku tiba-tiba saja membeberkan rencanaku pada mom dan my sista' sore tadi saat kumpul santai di ruang keluarga. Berdiskusi, mencari solusi terbaik atas apa yang sudah kurencanakan. Dan nyokap bilang oke. Mendukung apa yang sudah kususun untuk kujalani. Aku (kembali) akan pergi lagi.

Sebenarnya, aku nggak mendadak memberitahukan ini ke mom dan my sista. Aku sudah menguraikan rencanaku pada mereka sejak sekitar bulan Maret lalu. Tapi, memang belum ada waktu pasti. Sore tadi, aku meminta pendapat dari mereka, karena ada tawaran aku harus pergi pekan ini.

Aku tahu pasti, meski tadi mom bilang oke. Mendukung keputusanku, tapi aku tau masih sangat sulit untuk mom melepasku. Ia lebih senang jika aku berada di dekatnya. Karena prinsipnya, 'tempat terbaik bagi anak perempuan adalah di dekat orang tuanya.' 

But mom, you know that I waited for 8 years, right? I tried to keep up with all these things here for 8 years. And you know bout me better because Im your own daughter. I cant be tied down, mom. I just cant be settled at one place without escalations. Without any improvement. I need to spread my wings and go higher.

Mom, i felt so stuck and stressed out for a long time this past 8 years. I always asked myself, what i gained? Whats my improvement? What have i done with my life? You know that as for me, my life cant be the same. I don't like when my life seems so flat. I cant live in a (normal) comfort zone as others. I love challenges. I'd love to ride my life (as) on a rollercoaster. I like feeling the up and down. And mom, don't you know, i love talking about my struggling.

So mom, try to bear with my desicion. I promise you, i may not be able to be by your side for a year. I'll be back to you after i finished it and bring the better me. Unless Allah gives me another destiny. The best for me.

You saw me through this past 8 years right? I changed mom. Im not that fragile anymore. Maybe Im still stupid sometimes, but Im stronger, independent and good learner now. I might be still greedy. But you know that I took a 'U turn' as you guided me, and i changed my direction, mom. My greediness isnt about money, career, or fame. I wont work as you asked me not to. I'll live my life as an unemployed but still happy with a lot of activities. Trust me, mom. Trust me. 

Mom, i love you with all my heart. But you know, this is about my life we're talking about. So, please keep up with me.



-------------------

So much thanks to Pams. Stranger who said hi, then exchanging some english convo. And made me realize that I need to re-arrange my thought, making my desicions. Pams reminded me that it is about my life i should never neglect. Thanks Pams.



Coronavirus, Kembali kepada Kodrat Perempuan

Sebuah Opini

Beberapa hari lalu, tepatnya sejak Ahad, 15 Maret 2020 beredar himbauan tentang diliburkannya sekolah, TPQ, majelis ta'lim, serta menyusul istilah work from home (bekerja dari rumah) melalui jaringan media televisi, video dan artikel yang dikirimkan melalui pesan-pesan broadcast WA, twitter, facebook, maupun media sosial lainnya. Secara resmi pemerintah pusat melalui Pernyataan resmi Presiden menyatakan, "bekerja, belajar, dan ibadah di rumah masing-masing". Maka mulailah berseliweran video-video edukasi dan threads tentang coronavirus dan solusi dengan istilah lockdown, social distancing, dan extreme social distancing.

Maka dengan itu, sejak tanggal 16 maret sampai tanggal 29 maret 2020, hampir seluruh daerah di Indonesia memberlakukan kebijakan tersebut. Masyarakat dihimbau untuk tetap berada dirumahnya masing-masing, untuk mencegah penyebaran virus agar tidak semakin meluas.

Ketika menyimak informasi tentang virus yang telah menjadi pandemik (global) ini, satu hal yang menarik yang saya tangkap. Virus ini pasti akan tetap menyebar dan tetap akan ada orang-orang yang sakit. Artinya, semua usaha yang sedang dijalankan bersama ini bukanlah upaya untuk membasmi virus baru ini. Lockdown dan (extreme) social distancing ini hanyalah upaya agar orang-orang yang sakit tidaklah sakit secara bersamaan. Sehingga fasilitas kesehatan mampu menampung serta menyembuhkan mereka yang sakit.

Dari kenyataan itu, ada yang menggelitik pikiran yang membuat saya sulit untuk tidur sampai saya memutuskan untuk menuliskan sebuah opini pribadi. Dan, siapa saya untuk dijadikan rujukan kebenaran? Opini ini hanyalah bagian dari pengingat pribadi sebagai hasil pembelajaran dari fenomena yang membuat hampir seisi negeri terasa mencekam.

Tetaplah Berada di Rumahmu

Lockdown dan social distancing hanyalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kebijakan agar kita tetap berada di rumah kita masing-masing. Dan sebisa mungkin untuk tidak keluar dari rumah ataupun melakukan perjalanan keluar kota bahkan keluar negeri. Pun merupakan istilah untuk menunjukkan bahwa dengan tinggal di rumah berarti mengurangi interaksi (kontak fisik) dengan orang lain (selain anggota keluarga). Istilah ini kemudian diikuti dengan pencanangan pola hidup bersih : Mencuci tangan dengan sabun secara berkala; menutup hidung ketika bersin menggunakan lengan bagian dalam atau tissu; tidak bersalaman/bersentuhan dengan orang lain terutama yang menunjukkan gejala kurang sehat; serta minum air putih dan makan masakan yang dimasak secara sempurna; dst.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah menyebutkan bahwa virus ini tidaklah lebih berbahaya dari virus-virus yang pernah ada sebelumnya seperti sars, hiv/aids, maupun ebola. Namun, karena perkembangan media dan persebaran informasi yang begitu cepat, dunia terasa begitu mencekam dengan sebuah virus baru ini.

Maka, apa yang saya ambil dari kejadian yang masih berlangsung ini?

1. Bukankah kita harus semakin yakin pada Allah sebagai satu-satunya Pencipta? Dialah Dzat yang menciptakan kita dan bahkan menciptakan apa-apa yang kita takutkan sampai hari ini. Sungguh, tidak ada yang lebih kuasa dari-Nya. Seyakin-yakinnya kita pada info terpercaya, penelitian medis, maupun pengalaman yang sudah terjadi pada orang-orang tertentu, bukankah keyakinan kepada Allah diatas segala-galanya?

2. Bukankah ini menjadi pengingat terbaik bagi kita semua terutama seorang muslim untuk memperhatikan bahwa Allah telah mengatur kehidupan kita dalam syariat-Nya yang agung? Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi di sisi-Nya merupakan aturan hidup dan manhaj etika yang harus kita jalankan. Termasuk adab pergaulan, adab makan, adab bersin, dsb. Maka mudah-mudahan dengan semua ini kita termotivasi untuk kembali belajar adab dan berusaha menerapkannya, bukan hanya semata karena kita hendak terhindar dari penyakit, tapi juga sebagai bagian dari ibadah dan berupaya untuk bisa meraup pahala dengannya.

3. Dan diantara syariat-Nya yang hari ini telah banyak dilalaikan oleh manusia adalah: Hijab yang paling baik bagi seorang perempuan adalah tetap berada di dalam rumahnya. Ya, stay at home adalah kodrat perempuan seharusnya. Kodrat perempuan (seharusnya) adalah lebih suka tinggal di dalam rumahnya. Lalu ada seorang teman yang menyanggah pernyataan saya ini dengan berkata, "Tapi lockdown dan social distancing ini bukan hanya berlaku untuk perempuan, mbak. Laki-laki juga bekerja bahkan beribadah di rumahnya masing-masing." (Ia berusaha mengatakan opini saya nggak relevan). Boleh jadi opini saya ini nggak berdasar. Opini saya memang nggak bisa dijadikan pegangan. Sekali lagi, siapa saya?
Tapi, saya masih menyimpan pelajaran yang saya ambil dari fenomena yang sedang berlangsung ini. Bukankah Allah menyuruh kita untuk memikirkan, jika kita adalah orang-orang yang berakal (uluul albaab). 
Maka saya putuskan untuk beropini pada blog pribadi saya ini.

Sesungguhnya semua yang ada pada diri seorang perempuan adalah aurat. Maka setan berusaha menghiasi perempuan dengan tipu daya dan fitnah. Karenanya, sudah seharusnya ayah, suami, atau wali si perempuan (muslimah) melakukan lock(ing)-down (membuat larangan bagi istri dan anak perempuannya sehingga tidak bebas keluar dari rumah tanpa seizinnya). Karena kembali lagi, hijab yang paling baik bagi perempuan adalah dirumahnya. Dan laki-laki (ayah, suami, atau saudara laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban terhadap istri, anak perempuan, atau saudara perempuannya).
Dan sudah seharusnya pula para muslimah menyadari kewajiban social distancing pada dirinya. Tetaplah berada dirumahmu, dan jangan memudah-mudahkan keluar untuk perkara-perkara sepele apalagi yang nggak bermanfaat. Kecuali untuk perkara-perkara yang penting dan atas seizin ayah, suami, atau saudara laki-lakinya.

Maka mudah-mudahan semua fenomena ini bisa terlihat sebagai bentuk kasih sayang Allah dalam mengembalikan kita pada kesempurnaan syariat-Nya.

Jika yang mengaku pejuang agama Allah pun masih sering lalai dengan syariat Allah yang satu ini, maka siapa lagi yang bisa mengingatkan kita untuk kembali?

Haps, bukankah dirimu sudah begitu hafal dengan ash-shaf : 2 (karena surat ini adalah surat pilihan yang wajib dihapalkan di awal-awal tarbiyah, bukan?) "Sungguh sangat dibenci di sisi Allah mereka yang mengatakan apa-apa yang nggak mereka kerjakan".

Semoga Allah senantiasa memberi kita semua petunjuk untuk kembali di atas kebenaran.

Ya Allah, jadikan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lurus. Jangan Engkau belokkan kami. Jangan pula Engkau sesatkan kami. Tetapkan kami sebagai orang-orang yang menyeru pada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Jadikan kami ummat terbaik, ya Allah.


Bandar Lampung, Hari Kedua Segala Aktivitas (Terpaksa) Terhenti. 17 Maret 2020.

Muhasabah 2017

Sebenarnya ada sangat banyak yang saya pelajari di tahun 2017. Generally, saya masih terus belajar tentang kehidupan. Kl di tahun2 sebelumnya saya berkutat dengan pelajaran berdamai dengan diri sendiri. Berkompromi dengan hati. Tapi tahun ini saya mungkin belajar selain berdamai dengan diri sendiri, juga berdamai dengan keadaan. Termasuk berdamai dengan orang lain.

Selain itu, saya masih terus mempelajari takdir dan bagaimana menyikapinya melalui nasehat2 Ibnul Qoyyim dalam buku Al fawaid : "Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi."

Pelajaran selanjutnya: MERUBAH MINDSET itu PENTING. Ini kerasa banget. Padahalnya, selama berpuluh2 tahun saya struggling dengan permasalahan2 yang sebenarnya saya tau ilmunya. Tapi sering stuck pada titik2 tertentu. Seolah2 saya berasa dalam tempurung. Baru kerasa banget setelah menganalisa orang terdekat saya yang saya perhatikan nggak bisa keluar dari tempurungnya. Padahal, I admire her so much. She's one of my role model, actually. Waktu kami punya waktu untuk sharing, saya keluarkan semua unek2 saya ke dia. Baru disitu dia dan saya tersadar bahwa solusi untuk keluar dari tempurung kami adalah dengan merubah mindset. Setelan pemikiran (mind set) kita akan menentukan bagaimana kita akan menjalani kehidupan ini.

Well, rasanya pelajaran2 hidup saya complicated banget ya. Nah, baru desember ini jg sy belajar tentang orang yang pemikirannya terhadap kehidupan cukup simpel. Nggak rumit. Nggak njlimet. Pokoknya opposite banget sama saya. Ada pelajaran berharga yang saya dapat dari dia. Bahwa simpel itu kadang dibutuhkan. Untuk membuat hidup terasa lebih mudah. Jadi saya belajar untuk slow down sedikit dalam menjalani kehidupan.

Pelajaran yang lain juga: Berusaha untuk bersemangat memberi manfaat kepada orang lain. Ini pelajaran yang saya nggak sangka banget dapatnya dari orang yang enggak banget. Sekelompok anak2 muda yang awalnya saya pandang sebelah mata. Hanya karena mereka bergerak di bidang yang jauh dari jangkauan saya, bukan berarti saya nggak bisa ambil pelajaran dari mereka. Complete package itu yang saya pelajari dari mereka: Hard work, passion, patience, and good attitude. Perkara niat mereka apa, itu bukan urusan saya. Tapi semangat mereka untuk memberi manfaat kepada orang banyak dengan 4 modal tadi benar2 pelajaran berharga buat saya.

Sebenarnya masih banyak banget pelajaran yang saya ambil di tahun ini. Dan pelajaran tiap tahun saya adalah: Belajar untuk terus bersyukur. Belajar nggak greedy. Belajar nggak fragile lagi.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Tulisan ini ada karena pertanyaan dari seorang teman yang juga hobi nulis: Siti Rahmadayanti.

Keep Going


There's time when I had a regret and asked myself, "Why didn't you do it, haps?" or "Why did you do it, haps?" And I was wondering about the things I've been through. 

But eventually I already knew. I couldn't turn back time. I couldn't change fate nor life itself. 

So I decided to keep going. To keep on living. No matter how gloomy or sunny the atmosphere was. 

I won't run away.

or I won't run away for real.


 

Iradatullah


Dalam buku Al Fawaid, Ibnul Qayyim mengatakan, "Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi."

Dua hari yang lalu seorang teman mengirim pesan menggiurkan. Mengajak saya bepergian (travelling) dengan destinasi yang belum pernah saya datangi : ACEH. Dan dia katakan pula bahwa jalan-jalan ini sebagai kado bulan yang istimewa untuk kami berdua (dia dan saya lahir di bulan yang sama, dengan tanggal yang berdekatan pula. Hanya sehari selangnya). Saya begitu ingin mengiyakan ajakan itu. Tapi, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan saya. Dan ada banyak hal yang tidak bisa begitu saja saya tinggalkan untuk sekedar bersenang-senang. Saya sangat merasa bahwa bertambahnya umur dan ilmu membuat pertimbangan itu menjadi semakin banyak. Kalau saya yang dulu, mungkin bisa saja akan langsung packing dan nekat pergi. Tapi tidak kali ini. Tidak dalam beberapa tahun belakangan ini. Seberapa besarnya pun saya menyukai kata PERGI.

Terkadang, ada saja penyesalan saat saya dapati foto teman-teman dengan background tempat-tempat indah. "Kenapa saya nggak ikut pergi?!" Tapi, saya lebih tersiksa dengan penyesalan saat teringat momen buruk saat saya terburu-buru pergi. Ada saja hal yang saya sesali jika saya pergi dengan pertimbangan yang pendek (baca: nekat). Maka, sudah cukup penyesalan-penyesalan itu. Saya tak mau mengulanginya lagi.

Setelah dua hari berkutat dengan pertimbangan-pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk mengirim pesan maaf pada teman saya itu. Saya meminta maaf karena tidak menerima ajakannya. Meski saya ingin sekali. Saya meminta maaf karena ada hal-hal yang tidak bisa saya tinggalkan meskipun saya tahu dia jauh lebih sibuk dibanding saya. Dan jawaban dia membuat hati saya lebih mencelos lagi : "Haha, ga papa kok."

Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Dan apa yang Allah tidak kehendaki pasti tidak akan terjadi. Saya hanya berharap, di tahun depan (tahun 2018) kehendak Allah sesuai dengan apa yang saya kehendaki. Saya masih ingin tetap pergi. Ya Allah, cukup saya dan Engkau yang tahu kemana saya ingin pergi.

Ya Allah, Engkau yang paling mengetahui isi hati. Engkau yang mendalami keinginan diri ini. Saya hanya bisa berserah. Pasrah.




 

Talk to whom? Your Mother?


Entah sy yg nggak gaul atau konservatif, tapi telinga saya gatal minta ampun saat siang ini sy duduk diatas angkot, harus mendengarkan percakapan seorang ibu dan anak gadisnya. Karena mereka berbicara dengan volume cukup kencang, maka mau tidak mau percakapan mereka mampir ke telinga saya. Sayangnya, saya tidak bawa headset hari ini.

Anak gadis : "Mama ini makanya besok disiapin berkas-berkasnya. Gua juga kan yang repot, Ma. Untung nggak ada yang ketinggalan."

Si Mama : "Iya, untung KTPnya nggak ketinggalan. *sambil melihat ke arah berkas ditangannya* Ini elo kok nggak tanda tangan? Kan kemaren dibilangin di surat ini lo tanda tangan."

Anak gadis : "Iya tah ma? Gua nggak tau. Lagian, itu fotokopian bego. Ngapain dia press segala. Lah yang perlu di press cuma ijazah, surat itu di press juga."

Uuhh... telinga saya gatal banget. Saya nggak terbiasa mendengar percakapan seperti itu antara ibu dan anak. Kalo sesama teman sih menurut saya masih wajar. Apalagi anak-anak muda yang mau terlihat gaul.

Sepanjang perjalanan, saya mengernyit pahit saat si anak gadis mengucapkan kata-kata yang menurut saya agak kasar. Yang Setan lah. Gila lah. Dan gua-elo untuk ibu dan anak menurut saya tuh agak gimana gitu.

Tapi, mungkin itu persepsi saya sendiri. Karena memang saya orang jawa yang diajari tata krama terhadap orang tua. Dan mungkin standar tata krama di keluarga saya berbeda dengan standar ibu dan anak gadisnya tadi. Kalo di keluarga saya, cara saya berbicara kepada orang tua saya tidak sama dengan ketika saya berbicara dengan teman saya. Dan, mungkin standar itu yang masih saya bawa.

Haha, this is life. You should know that everything doesnt revolve only around you, haps.

Tapi saya bersyukur karena diajari yang baik oleh orang tua saya. Orang tua saya mengajari tata krama saja, saya masih sering khilaf dan nggak sopan ke orang tua saya. Apalagi kalo saya nggak diajari tata krama. Haha.

Dan alhamdulillah angkot yang saya naiki sudah sampai di tempat tujuan. Segera saya bayar ongkos angkot dan melenggang pergi.


Reminiscing


Setiap orang sedang melangkah menuju takdirnya masing-masing. Setidaknya, itulah yang sedang kurasa. Tapi aku, kenapa aku sendiri terjebak disini? Aku merasa seperti berada di ruang hampa. Aku kembali pada kegelapan. Planet-planet berhenti dari peredarannya. Aku tak tahu harus melangkah kemana.

Apa aku punya pilihan?
Kenapa aku tak melihat satu pun jalan keluar?
Lalu kemana aku harus melangkah untuk menuju takdirku?

"Kita tidak pernah tahu takdir kita ke depannya seperti apa. Selama takdir itu belum sampai padamu, jalani apa yang menjadi takdirmu sekarang dengan sebaik-baiknya. Jika nanti takdir yang lain mendatangimu, maka jalani takdirmu selanjutnya. Dengan baik pula. Selama kamu punya niat dan tekad yang kuat, yakinlah bahwa Allah pasti memberi jalan."

Apa kamu ingat siapa yang mengatakan itu, haps?







Don't Gaze Your Future Sadly




Pernah dengar tentang klasifikasi manusia seperti ini?

1. Jenis Manusia yang Tahu bahwa dirinya Tahu.
2. Jenis Manusia yang Tahu kalo dirinya Tidak Tahu.
3. Jenis Manusia yang Tidak Tahu kalo dirinya Tahu.
4. Jenis Manusia yang Tidak Tahu kalo dirinya Tidak Tahu.

Saya sendiri sudah beberapa lama ini menganalisa bahwa saya masuk pada jenis manusia yang pertama dan kedua. Setelah bertahun-tahun saya berkutat dengan hipotesa-hipotesa. Berapa lama waktu yang saya habiskan dalam sebuah kesimpulan, “there’s something wrong with me.” But I don’t really know what’s really wrong tho.

Yang jelas, saya tahu pasti bahwa saya memiliki segala pengetahuan yang sedikit itu. Saya masuk pada kategori Tahu. Hanya saja, I’m still wondering, knowing a little much is another burden. Kalo kamu tahu sesuatu itu salah dan kamu masih saja melakukannya, maka kamu akan mengalami perang batin. Dan itu tidaklah mudah. Kalo kamu tahu hal yang seharusnya kamu lakukan tapi justru nggak kamu lakukan, maka akan ada justifikasi dan segala self blaming. Dan itu adalah hal yang menyakitkan.

Knowing a little much sometimes isn’t better, I guess. Because it will torture you more than anything else. 

Terlepas dari semua itu saya masih akan tetap bersyukur. Saya rasa, ini semua adalah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap diri saya. Saya tahu benar bagaimana aura negative itu memenuhi ruang nafas saya. Dan segala pengetahuan yang sedikit itu menjadi filter sekaligus prosesor agar aura positif bisa menggantikannya. Meski terkadang filter itu masih sering bocor. Dan prosesornya terkadang macet. Haha.

Maka, sangat benar yang sebuah perkataan yang dikirimkan oleh teman saya: 



Ketika tadi saya scrolling down lini masa, dan mendapati sebuah kutipan dari seorang yang memutuskan pindah dari negeri sendiri untuk berjuang di negeri asing (yang ia pilih) sana, maka saya melihat ada desah ketakutan yang wajar dimiliki manusia. Namun hebatnya, ia mampu untuk bertekad dan berpasrah pada Allah sebagai Tuhannya. Dari sisi ragawi, yang tampak di hadapan manusia, mungkin ia bukan seorang yang shaleh (atau setidaknya belum sampai pada taraf keshalehan umumnya). Tapi dari sisi kepasrahan dan keyakinan pada Allah, saya harus meneladaninya. Kalau kamu memang memiliki pengetahuan yang sedikit itu, haps, maka kamu harus bisa melawan ketakutan-ketakutanmu dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatanmu.  

Ohya, dia juga mengatakan: Manusia punya rasa takut, tapi manusia punya Tuhan, yang menghilangkan rasa sedih dan takut. Sebaik-baik pelindung adalah Dia, Sang Maha (Allah). Percaya saja.

Dia juga mengingatkan tentang bagaimana hebatnya persiapan berupa : Perencanaan. Dan ketetapan akan takdir Allah akan kemudahan yang membuat kita maju, atau kesulitan yang menahan kita dan seharusnya menjadikan kita ikhlas, pasrah.

Terimakasih penulis kesayangan. Tulisanmu benar-benar menginspirasi. Semoga Allah beri mbak taufiq, hidayah serta kebaikan yang berlimpah.

Dan untukku, semoga Allah memperbaiki semua urusan dan keadaan. Don’t be afraid, haps. You have Allah, right?  No need to worry. Ask Him to turn what you wish you'll be.

Really. Don't gaze your future sadly, haps. Cheer up!




~~~~~~~~~~~~~~~~

Ohya, saya masih terus bergumul dengan segala ketakutan-ketakutan saya akan masa depan. Di luar mungkin saya terlihat tenang, but i can't deny it's boiling deep inside. Haha. Ini salah satu cara saya untuk menenangkan diri. Kamu tahu teorinya, pasti akan diuji dengan praakteknya, right? Semoga saya lulus ujian ya.




Ultimate Key : Husnudzan



Pagi ini, di atas angkot.

Duduk di depanku seorang ibu dan anak lelaki yang menggunakan seragam olahraga sekolahnya. Wajah mereka berdua begitu mirip. Anak laki-lakinya itu, yang kuperkirakan masih kelas 1 atau 2 SD, begitu lucu. Saat ia mengunyah cireng pedas dan sesaat kemudian sibuk membuka tutup botol minumnya, raut wajahnya yang kepedasan tak ayal membuatku senyum senyum sendiri. Dan sang ibu, yang bertanya tentang PR serta kegiatan yang dilakukan anak lelakinya di sekolah tadi. Ah, adegan serta dialog yang entahlah, bagiku terasa indah.

Padahal baru kemarin aku berkutat pada ketakutan-ketakutanku yang payah itu. Tapi hari ini aku mulai bersemangat lagi. Mau tak mau, aku toh harus menyambut takdir yang belum sampai padaku itu. Lalu, kenapa harus menghabiskan energi pada hal yang belum terjadi?

Berprasangka baiklah pada Allah. That's the ultimate key, haps.


Bahagia Itu Sederhana



Edisi : Pandai Bersyukur

Awalnya, aku begitu kagum dengan kejadian yang terjadi pada temanku ini. Sebut saja Dya. Aku baru tahu setahun kemarin kejadian yang Dya alami. Dan menurutku, itu sebuah hal yang begitu menakjubkan. 

Dya sangat jarang bahkan enggan jika diajak pergi ta’lim (mendengarkan ceramah) di masjid. Berbeda dengan sang adik, Ars yang memang senang menghadiri ta’lim. Beberapa kali Ars mengajak Dya untuk menghadiri ta’lim. Tapi entahlah, ada saja alasan Dya untuk tidak ikut. Meskipun begitu, Ars tak bosan-bosannya mengajak Dya untuk ikut menghadiri majelis ta’lim. Sampai suatu ketika, Dya memutuskan untuk ikut Ars menghadiri ta’lim di suatu masjid yang terkenal bagus, dingin, dan nyaman di samping area public space di Bandar Lampung. 

Ars tidak bercerita banyak padaku kecuali: “Setelah ta’lim selesai, Dya pergi ke toilet. Tiba-tiba ada seorang Ibu yang mendekatiku bertanya tentang Dya. Maka kukatakan bahwa Dya adalah kakakku. Lalu Ibu tadi menyebutkan bahwa ia hendak mencarikan istri untuk anak laki-lakinya. Dan Ibu tadi berkenan dengan Dya.”

Maka perkenalan pun terjadi. Ibu tadi adalah istri salah satu pejabat di Bandar lampung. Background keluarga si laki-laki dari kalangan terpandang dan berada. Anak laki-laki yang sedang ia carikan istri pun ternyata sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai PNS. Meski tidak setampan artis-artis di Televisi, tapi si laki-laki memiliki wajah yang rupawan, enak dipandang. Bawaannya adalah mobil Pajero Sport mentereng. Tempat makannya bukan kelas kaki lima melainkan hotel bintang lima. Dan ia termasuk anak yang patuh pada perintah orang tua. Padahal, banyak yang menolak perjodohan dengan alasan “Ini kan bukan lagi zaman Siti Nurbaya!”

Maka, tak ada alasan bagi Dya untuk menolak pinangan tersebut. Pernikahan pun diselenggarakan dengan cukup mewah dan meriah. Maklum, undangan dari pihak keluarga laki-laki kebanyakan dari kalangan pejabat maupun PNS. 

Ohya, bagaimana dengan kondisi keluarga Dya? Maka, saya beri judul di atas dengan “BAHAGIA ITU SEDERHANA”. Karena Dya berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dya yatim sejak SD. Dya dan Ars terpaksa ikut dengan tantenya (adik ayahnya) dan hidup dari sokongan keluarga sang ayah (oom dan tante-tante yang lain) karena Ibunya tak sanggup membiayai sekolah keduanya. Berbeda dengan Ars yang berprestasi, Dya termasuk siswa biasa-biasa saja. Nilai-nilai ujian Dya sangat sederhana. Ketika kuliah pun IPKnya masih juga sederhana. Dya bekerja di perusahaan yang sederhana juga. Bukan perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. 

Tapi, subhanallah. Jika Allah berkehendak, maka segala sesuatu akan terjadi. Baru setengah tahunan Dya bekerja, dan dengan sekali ia datang bermajelis (itupun karena diajak Ars, adiknya), Ia dilirik oleh Ibu Ratu dari Pangeran Hatinya. Ia mendapatkan jodoh di masjid yang nyaman dan dingin itu. Masya Allah.

Bahagia itu Sederhana. Jika kamu bisa menyederhanakan hatimu untuk lapang menerima apapun yang Allah berikan padamu. Banyak atau sedikitnya. Besar atau kecilnya. Itulah yang saya lihat pada diri Dya. Menurut penuturan Ars, Dya tak menyimpan dendam pada ibunya yang menikah lagi dan tetap hormat dan patuh pada ibunya meski ia tahu ibunya tak pernah membiayai hidupnya sejak kematian ayahnya. Dya juga menjalani hidup dengan santai dan apa adanya. Ia tak pernah menutupi kondisi “adopsi” yang ia jalani. Dya juga, adalah sosok periang dibalik semua cobaan hidup yang dia alami.

Maka, jika Allah berkehendak untuk menjadikan Dya bak Cinderella dalam kehidupan nyata, mungkin itu sesuatu yang wajar saja. Lalu saya menasehati diri sendiri :

Kebahagiaan itu akan datang kepada mereka yang berhati baik. Sesederhana itu.



Bandar Lampung, 06 September 2017
Setelah berbincang dengan Dya dan tahu tentang kabar kehamilannya. Selamat ya, Dya. Semoga Sehat Ibu dan Baby.