Ultimate Key : Husnudzan



Pagi ini, di atas angkot.

Duduk di depanku seorang ibu dan anak lelaki yang menggunakan seragam olahraga sekolahnya. Wajah mereka berdua begitu mirip. Anak laki-lakinya itu, yang kuperkirakan masih kelas 1 atau 2 SD, begitu lucu. Saat ia mengunyah cireng pedas dan sesaat kemudian sibuk membuka tutup botol minumnya, raut wajahnya yang kepedasan tak ayal membuatku senyum senyum sendiri. Dan sang ibu, yang bertanya tentang PR serta kegiatan yang dilakukan anak lelakinya di sekolah tadi. Ah, adegan serta dialog yang entahlah, bagiku terasa indah.

Padahal baru kemarin aku berkutat pada ketakutan-ketakutanku yang payah itu. Tapi hari ini aku mulai bersemangat lagi. Mau tak mau, aku toh harus menyambut takdir yang belum sampai padaku itu. Lalu, kenapa harus menghabiskan energi pada hal yang belum terjadi?

Berprasangka baiklah pada Allah. That's the ultimate key, haps.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarnya masuk kotak penampungan dulu ya...

Just make sure saya baca satu persatu :-)